Di Tengah Luka Pasca Banjir, Warga Langkahan Menanti Empati dari Pasar Murah
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Rela menempuh perjalanan dari Desa Leubok Pusaka, Dusun Tanah Merah, menuju Geudumbak, Kecamatan Langkahan, demi membeli sembako murah, seorang nenek justru harus menahan pilu saat cucunya menangis kelaparan di tengah keramaian pasar murah, Rabu (29/4/2026).
Peristiwa itu menjadi potret getir kehidupan warga pasca banjir di Aceh Utara. Meski air telah surut, penderitaan masyarakat belum benar-benar berakhir.
Pasar murah yang digelar pemerintah sejatinya diharapkan menjadi angin segar bagi warga terdampak. Namun bagi sebagian masyarakat, kegiatan tersebut justru menyisakan pertanyaan tentang makna bantuan di tengah masa pemulihan.
Saribanon, salah seorang penyintas banjir, mengaku harus turun dari Leubok Pusaka ke Geudumbak dengan harapan bisa membawa pulang kebutuhan pokok untuk keluarga.
Namun, untuk satu paket sembako berisi minyak goreng, gula, dan beras, ia harus membayar Rp216.000. Sementara paket lainnya dijual dengan harga Rp110.000.
“Alhamdulillah ada, walaupun harus beli. Kondisi sekarang kami benar-benar tidak punya uang karena dampak banjir,” ujar Saribanon dengan nada lirih.
Bagi warga yang masih berjuang membersihkan rumah dari sisa lumpur serta memulihkan penghasilan, nominal tersebut tentu bukan angka yang kecil.
Kesedihan Saribanon tidak berhenti pada persoalan harga. Ia juga mengaku sempat meminta makanan untuk cucunya yang menangis karena lapar. Namun, menurut pengakuannya, permintaan itu tidak mendapat respons dari petugas di lokasi.
“Tidak ada yang memberi, padahal cucu saya sampai menangis. Katanya itu untuk orang kabupaten atau provinsi,” tuturnya.
Tangis sang cucu di tengah deretan paket sembako dan lalu lalang warga menjadi gambaran nyata betapa sulitnya kondisi masyarakat pasca bencana.
Di tengah upaya bangkit dari banjir, warga berharap distribusi bantuan dapat dilakukan lebih merata dan tepat sasaran, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Bagi masyarakat penyintas banjir, pemulihan tidak hanya soal surutnya air, tetapi juga tentang hadirnya kepedulian yang mampu menjawab kebutuhan mendesak di lapangan.
Kini, sembari membersihkan sisa lumpur dan menata kembali kehidupan, warga hanya berharap satu hal, bantuan yang datang dengan rasa kemanusiaan.***
Penulis: Abdul Rafar



