Di Bawah Terik, Seorang Ayah Menuntun Harapan di Atas Sepeda Tua
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Matahari siang memancar terik tanpa ampun. Aspal jalan memantulkan panas yang menyengat, sementara debu tipis beterbangan setiap kali kendaraan melintas. Di tengah suasana itu, seorang lelaki paruh baya berjalan perlahan, menuntun sepeda tua yang sarat dengan tandan pisang hijau di kedua sisinya.
Peluh mengalir di wajahnya, membasahi kerah baju yang telah kusam oleh perjalanan dan waktu. Langkahnya tidak cepat, tetapi mantap—seolah setiap pijakan adalah ikhtiar yang tak boleh terhenti. Di bawah langit yang membakar, ia terus berjalan, menempuh jalan demi jalan untuk menjajakan dagangannya.
Sepeda tua yang dituntunnya tampak lebih dari sekadar alat angkut. Pada besi-besi yang mulai menua itu, tersandar harapan tentang nafkah hari ini: beras yang harus dibeli, kebutuhan rumah tangga yang menunggu, dan tanggung jawab yang tak pernah mengenal jeda.
Pemandangan tersebut seketika mengundang perhatian orang-orang yang melintas. Di saat banyak orang melaju dengan kendaraan bermotor, lelaki itu justru memilih menapaki jalan dengan tenaga sendiri. Di kanan dan kiri sepedanya, tandan-tandan pisang bergoyang pelan, seakan ikut memikul beban kehidupan yang dibawanya.
Tak ada yang mengetahui sejak kapan ia memulai perjalanan hari itu, atau sudah seberapa jauh kaki-kakinya melangkah sejak pagi. Namun dari wajah yang letih dan sorot mata yang teduh, terbaca kisah panjang tentang perjuangan yang akrab dengan kehidupan masyarakat kecil.
Di tengah hiruk-pikuk jalan dan ramainya aktivitas pasar, sosok seperti dirinya sering kali hadir tanpa banyak disadari. Padahal, dari langkah-langkah sederhana itulah tergambar wajah ketabahan: seorang ayah yang terus bergerak di tengah keterbatasan, menjemput rezeki dengan cara yang paling ia mampu.
Potret itu menjadi cermin realitas yang tak asing di banyak sudut daerah. Di balik laju pembangunan dan kesibukan kota, masih ada mereka yang menggantungkan hidup pada tenaga, ketekunan, dan kesabaran.
Lelaki itu terus melangkah di bawah terik yang membakar. Sebab bagi sebagian orang, hidup tak selalu memberi ruang untuk berhenti—yang ada hanyalah terus berjalan, sambil menjaga harapan agar tetap menyala.***
Penulis : Abdul Rafar



