BERITA TERKINI

Data Membengkak, Kerja Menyusut: Saat Raja Mencium Aroma Permainan di Balik Laporan Istana

Data Membengkak, Kerja Menyusut: Saat Raja Mencium Aroma Permainan di Balik Laporan Istana

PASESATU.COM
- Pagi itu, kopi di meja Raja dibiarkan dingin.

Di hadapannya, setumpuk laporan tentang jumlah pekerja kerajaan tersusun rapi, lengkap dengan angka-angka yang sekilas tampak meyakinkan. Namun semakin lama lembar demi lembar dibaca, semakin terasa ada sesuatu yang tidak beres. Jumlah pekerja tercatat meningkat tajam dari waktu ke waktu, tetapi aktivitas di lorong istana justru tidak menunjukkan perubahan berarti.

Wajah-wajah yang bekerja masih orang yang sama.

Mereka yang datang paling pagi, pulang paling akhir, dan memikul beban tugas harian tetap itu-itu saja.

Di sinilah keganjilan mulai menemukan bentuknya.

Jika data menunjukkan penambahan tenaga kerja yang signifikan, mengapa beban pekerjaan tetap bertumpu pada segelintir orang? Mengapa ruang-ruang kerja tidak tampak lebih hidup? Dan yang paling penting, siapa sebenarnya yang mengisi daftar panjang nama dalam laporan itu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kini tidak lagi hanya beredar di antara dinding istana. Ia mulai menjadi bisik-bisik yang merambat ke tengah rakyat, memunculkan dugaan tentang adanya ketidaksesuaian antara data administratif dan kondisi nyata di lapangan.

Di atas kertas, kerajaan terlihat memiliki pasukan pekerja yang besar angka yang bahkan bisa menjadi simbol kekuatan tata kelola. Namun realitas sehari-hari menghadirkan gambaran berbeda. Lorong tetap lengang, meja kerja tidak bertambah padat, dan ritme kerja masih bertumpu pada tenaga yang sama.

Kontras antara data dan kenyataan inilah yang memunculkan aroma persoalan.

Sejumlah pihak menilai kondisi tersebut bisa menjadi indikasi lemahnya pengawasan internal, atau bahkan adanya ruang yang memungkinkan data dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Nama-nama yang tercatat belum tentu seluruhnya berbanding lurus dengan kontribusi nyata terhadap pekerjaan.

Dalam praktik birokrasi, kondisi semacam ini bukan hal baru. Di banyak tempat, data kerap menjadi instrumen yang rentan dipoles demi kepentingan citra, distribusi anggaran, atau kepentingan kelompok tertentu.

Yang paling mengkhawatirkan bukan hanya angka yang membengkak, tetapi mulai retaknya kepercayaan di jantung kekuasaan. Ketika Raja mulai mempertanyakan laporan yang disodorkan dari dalam istananya sendiri, itu menandakan adanya masalah yang tidak bisa lagi ditutupi oleh formalitas administrasi.

Sebab persoalan seperti ini jarang muncul secara tiba-tiba.

Ia biasanya tumbuh perlahan dari budaya saling diam, pembiaran yang berlangsung lama, hingga sistem yang lebih mengutamakan kedekatan daripada akuntabilitas.

Kini, pengawal pribadi kerajaan dikabarkan tengah menyiapkan evaluasi menyeluruh. Namun bagi rakyat, evaluasi semata tidak cukup bila hanya berakhir pada pergantian simbolik atau pengorbanan pihak-pihak kecil.

Publik menunggu langkah yang benar-benar menyentuh akar persoalan: audit data, verifikasi lapangan, serta keterbukaan mengenai siapa yang bertanggung jawab atas membengkaknya angka pekerja yang tidak sejalan dengan realitas kerja.

Karena sesungguhnya, kerajaan ini mungkin bukan sedang kekurangan tenaga.

Yang tampak justru sebaliknya: terlalu banyak nama, tetapi terlalu sedikit kejelasan.

Dan selama data masih lebih mudah dibentuk daripada fakta di lapangan, selama kedekatan lebih bernilai daripada integritas, maka kopi di meja Raja akan terus menyisakan rasa pahit rasa yang lahir dari kecurigaan terhadap sistem yang seharusnya dapat dipercaya.***

Penulis : Abdul Rafar