BERITA TERKINI

Sampah Menggunung di Jalur Nasional Panton Labu Akhirnya Diangkut, Warga: Jangan Tunggu Viral Baru Bergerak


ACEH UTARA | PASESATU.COM 
— Setelah sempat menjadi sorotan dan memicu keluhan publik, tumpukan sampah yang menggunung di sepanjang Jalan Lintas Nasional Medan–Banda Aceh, tepatnya di Kota Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, akhirnya mulai diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA), Sabtu (28/3/2026).

Pantauan di lapangan sekitar pukul 12.18 WIB menunjukkan satu unit truk pengangkut sampah hilir mudik memindahkan limbah yang sebelumnya menumpuk di pinggir jalan nasional. Tumpukan tersebut sempat mencolok, tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga menyebarkan bau menyengat yang mengganggu pengguna jalan.

Kondisi ini menjadi ironi di jalur strategis yang setiap hari dilalui ribuan kendaraan. Terlebih menjelang dan pasca Lebaran, saat arus lalu lintas meningkat, keberadaan sampah di badan jalan nasional dinilai memperparah kesan kumuh kawasan perkotaan.

Pembersihan yang dilakukan hari ini disambut lega oleh warga. Namun di balik itu, tersimpan kekhawatiran lama: penanganan yang hanya bersifat sesaat.

“Jangan cuma bergerak kalau sudah ramai dibicarakan. Sampah ini masalah harian, jadi harus ditangani secara rutin,” ujar seorang warga di sekitar lokasi, meminta agar pengelolaan kebersihan tidak bersifat reaktif.

Warga menilai, persoalan sampah di Panton Labu bukan sekadar soal estetika, tetapi juga menyangkut kesehatan lingkungan. Tumpukan limbah di ruang terbuka berpotensi memicu pencemaran, menghadirkan lalat, hingga meningkatkan risiko penyakit bagi masyarakat sekitar.

Selain itu, citra daerah turut dipertaruhkan. Sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi di Aceh Utara dan jalur utama penghubung antarwilayah, Panton Labu dinilai seharusnya mencerminkan wajah kota yang bersih dan tertata.

Masyarakat pun mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait untuk tidak berhenti pada aksi pembersihan sesaat. Mereka meminta adanya sistem pengelolaan sampah yang lebih terstruktur, mulai dari penyediaan tempat pembuangan yang memadai, jadwal pengangkutan rutin, hingga pengawasan ketat agar tumpukan serupa tidak kembali muncul di titik yang sama.

Jika tidak dibenahi secara serius, warga khawatir persoalan klasik ini akan terus berulang menunggu menumpuk, viral, lalu dibersihkan tanpa solusi yang benar-benar menyentuh akar masalah.(*)


Penulis : Abdul Rafar | Editor : Syahrul