BERITA TERKINI

Ratusan Hektare Sawah di Baktiya Belum Bisa Digarap Akibat Endapan Lumpur


ACEH UTARA | PASESATU.COM
— Ratusan hektare sawah di Kecamatan Baktiya, Aceh Utara, hingga kini belum bisa digarap akibat lapisan lumpur sisa banjir yang mengeras. Kondisi ini menghambat musim tanam dan berpotensi menyebabkan petani kehilangan sumber penghidupan.

Di Gampong Pulo Seuke, lumpur setebal sekitar 10 sentimeter masih menutup lahan pertanian. Meski permukaan terlihat kering, kondisi tanah belum memungkinkan untuk diolah.

“Sudah kering, tapi belum bisa ditanam. Lumpurnya masih tebal,” kata Daus (40), petani setempat.

Kondisi serupa juga terjadi di Gampong Alue Anoe Timu. Aktivitas pertanian terhenti, sementara petani hanya bisa menunggu tanpa kepastian kapan lahan kembali normal.

Tokoh masyarakat Baktiya, Tayeb, menyebut luas sawah terdampak diperkirakan mencapai sekitar 100 hektare. Ia menjelaskan, sistem irigasi sebenarnya tersedia, namun kini tertimbun lumpur akibat banjir.

“Jumlah sawah yang seperti ini ada sekitar 100 hektar. Sebenarnya irigasi ada, cuma sudah tertimbun lumpur akibat banjir. Karena keterlambatan penanganan maka terjadilah seperti ini,” ujarnya.

Ia berharap instansi terkait segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut. Menurutnya, keterlambatan penanganan telah memperparah kondisi petani.

“Saya berharap dinas yang bersangkutan harus berbicara terkait hal ini. Tanaman padi petani tidak ada harapan lagi. Harapan kami jangan sampai kejadian ini terulang yang kedua kali,” kata Tayeb.

Ia juga menargetkan agar penanganan dapat dilakukan sebelum memasuki bulan Mei, sehingga petani bisa kembali mengolah sawah.

“Minimal bulan 5 nanti sudah bisa tertangani dan masyarakat bisa turun ke sawah seperti biasa. Sampai saat ini belum ada penanganan apa-apa dari pemerintah,” lanjutnya.

Dalam waktu dekat, pihak masyarakat berencana melakukan musyawarah untuk mencari solusi bersama pemerintah daerah.

“Pihak kami dalam waktu dekat berencana musyawarah untuk bernegosiasi dengan pemerintah daerah agar ada solusi. Jangan seperti ini, karena padi adalah sumber ekonomi masyarakat di sini,” tutupnya.(*) 

Penulis : Abdul Rafar | Editor : Syahrul