BERITA TERKINI

Kayu Hanyutan Jadi Aset Ekonomi, Kebakaran di Langkahan Soroti Optimalisasi Pemanfaatan


ACEH UTARA | PASESATU.COM 
— Kayu hanyutan pascabanjir di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, sejatinya menyimpan nilai ekonomi strategis. Namun, insiden kebakaran yang terjadi di Dusun Teungoh, Desa Buket Linteung, Kamis (25/3/2026) lalu, justru memperlihatkan belum optimalnya pemanfaatan sumber daya tersebut.

Di tengah upaya pemulihan pascabencana, pemerintah melalui Kementerian Kehutanan telah menyerahkan kayu hanyutan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembangunan hunian sementara (huntara) dan fasilitas publik pada Desember lalu. Program ini menjadi bagian dari percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana hidrometeorologi.

Data di lapangan menunjukkan, di Kecamatan Langkahan terdapat 1.173 batang kayu hanyutan dengan total volume mencapai 2.112,11 meter kubik. Seluruhnya telah diserahkan secara resmi kepada pemerintah daerah. Dari jumlah tersebut, sekitar 60,77 ton atau setara 87 meter kubik telah diolah menjadi bahan bangunan.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Subhan, menegaskan bahwa kayu hanyutan merupakan aset yang harus dikelola secara transparan dan tepat sasaran.

“Kayu hanyutan kami serahkan kepada pemda agar pemanfaatannya fokus untuk huntara dan fasilitas publik, serta tidak disalahgunakan,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Selain mendukung pembangunan hunian, pemanfaatan kayu hanyutan juga berpotensi menekan biaya konstruksi serta mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat terdampak. Kayu yang sebelumnya dianggap limbah bencana kini berubah menjadi komoditas bernilai guna tinggi.

Namun, kebakaran yang melanda tumpukan kayu di Langkahan menunjukkan masih adanya kayu yang belum terkelola dengan baik. Sebagian material yang belum dimanfaatkan justru menjadi sumber risiko baru, terbakar dan merembet hingga merusak kebun kelapa sawit milik warga.

Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan kerugian pada sektor perkebunan, tetapi juga berpotensi mengurangi nilai ekonomi dari kayu yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk pembangunan.

Warga berharap distribusi dan pengolahan kayu hanyutan dapat dipercepat agar tidak terbuang sia-sia atau berubah menjadi ancaman. Selain itu, pengawasan di lapangan dinilai penting untuk memastikan seluruh potensi kayu dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Kejadian di Langkahan menjadi cerminan bahwa kayu hanyutan bukan sekadar sisa bencana, melainkan sumber daya ekonomi yang jika dikelola dengan baik mampu mendukung pemulihan, menggerakkan pembangunan, dan mengurangi beban masyarakat pascabencana.(*)


Penulis : Redaksi | Editor : Syahrul