BERITA TERKINI

Di Tengah Petasan dan Kembang Api, Seorang Pria Tua Mengayuh Harapan


ACEH UTARA | PASESATU.COM
— Di tengah riuh petasan yang memekakkan telinga dan langit malam yang pecah oleh cahaya kembang api, malam Idul Fitri seharusnya menjadi milik kebahagiaan. Tawa anak-anak pecah di setiap sudut, keluarga berkumpul, dan hidangan tersaji hangat di meja-meja rumah.

Namun, tidak bagi semua orang. Di lorong-lorong sempit Kota Panton Labu, Aceh Utara, seorang pria tua terlihat perlahan mengayuh becak tuanya. Tubuhnya membungkuk, tenaganya tersisa sedikit, namun roda itu terus berputar membawanya dari satu sudut gelap ke sudut lainnya.

Di belakangnya, karung lusuh bergoyang pelan. Bukan berisi hadiah Lebaran, melainkan harapan harapan dari rongsokan yang ia kumpulkan malam itu.

Saat anak-anak menengadah ke langit menikmati warna-warni kembang api, pria itu justru menunduk. Tangannya sibuk memungut sisa-sisa yang tak lagi bernilai bagi orang lain, namun begitu berarti baginya.

“Lebaran atau tidak, tetap harus cari makan,” ucapnya lirih, nyaris tenggelam oleh dentuman petasan.

Tak ada baju baru yang ia kenakan. Tak ada ketupat di meja rumahnya. Bahkan mungkin, tak ada waktu untuk sekadar duduk merasakan malam kemenangan. Baginya, malam ini sama seperti malam lainnya malam untuk bertahan hidup.
Cahaya kembang api terus menghiasi langit, tapi tak pernah benar-benar menerangi jalan yang ia lalui. Ia tetap mengayuh dalam gelap, ditemani lelah dan sunyi.

Kisah ini menjadi potret getir di balik kemeriahan Idul Fitri. Bahwa di saat sebagian merayakan kemenangan, ada yang masih berjuang untuk sekadar bertahan. Di balik gemerlap langit malam, tersimpan kenyataan bahwa tidak semua orang punya kesempatan untuk merasakan bahagia di hari yang fitri.(*) 

Penulis : Abdul Rafar  | Editor : Syahrul