“Seperti Lautan”: Cerita Penyintas Banjir Bandang yang Menelan Permukiman di Aceh Utara
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Banjir bandang yang melanda wilayah pedalaman Kabupaten Aceh Utara pada akhir November 2025 meninggalkan dampak besar bagi masyarakat, khususnya warga Dusun Bidari Desa Lubok Pusaka, Kecamatan Langkahan. Air bah yang datang secara tiba-tiba tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga menghanyutkan bangunan dan menghapus jejak kehidupan warga dalam hitungan jam.
Salah seorang penyintas, Saiful Ansori, warga Dusun Bidari yang juga berprofesi sebagai jurnalis, menuturkan banjir mulai naik sejak Rabu pagi, 26 November 2025, sekitar pukul 01.00 WIB.
“Rumah saya yang berbentuk rumah panggung dengan ketinggian sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah ikut terendam sekitar pukul 01.00 WIB. Air naik sangat cepat, dan sekitar pukul enam pagi kondisinya sudah seperti ombak di lautan,” tutur Saiful, Minggu (28/12/2025).
Menurutnya, debit air terus meningkat hingga mencapai puncaknya sekitar pukul 10.00 WIB. Pada saat itu, seluruh bangunan di kawasan permukiman tertutup air.
“Kalau dilihat dari tempat yang lebih tinggi, kawasan itu sudah seperti laut. Air menutupi semua bangunan,” katanya.
Saiful memperkirakan ketinggian air mencapai sekitar 20 meter. Kondisi semakin memburuk sekitar pukul 11.00 WIB ketika bangunan-bangunan dari wilayah hulu mulai hanyut terbawa arus deras dan menghantam permukiman warga di hilir.
“Yang menghantam rumah kami bukan kayu atau pohon, tetapi rumah. Bangunan dari hulu ikut terbawa arus dan menabrak permukiman,” ungkapnya.
Padahal, jarak permukiman warga dengan alur sungai mencapai sekitar 60 meter. Namun derasnya arus membuat air meluap jauh melampaui batas sungai dan menghancurkan rumah-rumah warga, yang sebagian besar berbahan kayu.
“Rumah kayu habis semua,” tutur Saiful.
Banjir sempat bertahan tanpa surut sebelum kembali mengalami kenaikan pada Kamis sore, 27 November 2025, sekitar pukul 18.00 WIB. Warga yang telah mengungsi ke lokasi lebih tinggi kembali diliputi kepanikan karena air tidak kunjung surut, sementara longsor terjadi di sejumlah titik perbukitan.
“Kami panik. Di atas longsor, di bawah air. Kalau bendungan di hilir tidak jebol, kemungkinan korban akan jauh lebih banyak,” katanya.
Dalam peristiwa tersebut, tidak dilaporkan adanya korban jiwa. Namun, hampir seluruh harta benda warga hilang tersapu banjir.
“Tidak ada korban meninggal dunia. Tetapi harta benda warga habis semua,” ujar Saiful.
Selama sekitar dua hari air menggenangi permukiman, warga bertahan di perbukitan dan kebun-kebun sekitar dengan mendirikan tenda darurat secara swadaya. Lumpur tebal setinggi betis hingga paha masih menyelimuti kawasan permukiman bahkan hingga lima hari setelah air surut.
Kondisi logistik warga sempat berada pada situasi kritis. Persediaan bahan makanan menipis hingga menyebabkan sebagian warga tidak makan selama satu hari.
“Kami kehabisan beras. Ada satu hari kami sama sekali tidak makan,” ungkapnya.
Bantuan beras pertama kali diperoleh setelah kepala desa setempat berinisiatif meminjam dana sekitar Rp30 juta ke desa tetangga untuk membeli beras bagi warga terdampak. Bantuan tersebut kemudian dibagikan secara terbatas kepada masyarakat.
Saiful juga menyoroti belum tersedianya tenda pengungsian resmi di lokasi terdampak. Hingga beberapa waktu setelah bencana, tenda shelter darurat dari pemerintah belum terlihat di kawasan tersebut.
“Yang digunakan warga adalah tenda lama sisa banjir sebelumnya. Itu pun tenda keluarga, bukan tenda shelter darurat,” ujarnya.
Ia menambahkan, bantuan dan pelayanan kesehatan lebih banyak datang dari relawan, aparat kepolisian, TNI, mahasiswa, serta masyarakat sipil. Aparat kepolisian disebut rutin membawa tenaga medis ke lokasi pengungsian.
“Banyak pihak yang membantu, terutama dari unsur relawan dan aparat. Layanan kesehatan juga rutin datang,” katanya.
Saat ini, sebagian warga mulai membangun kembali tempat tinggal secara mandiri dengan memanfaatkan sisa material yang masih dapat digunakan. Namun, kebutuhan mendesak seperti WC portable, serta kepastian terkait relokasi atau pembangunan hunian tetap, masih menjadi harapan utama warga terdampak.
“Kami bertahan sambil menunggu kejelasan. Apakah akan direlokasi atau dibangun hunian, itu yang masih kami tunggu,” tutup Saiful.(*)
