Gabah Bertunas di Karung, Petani Aceh Utara Menunggu Uluran Pemerintah
Font Terkecil
Font Terbesar
![]() |
| Gabah hasil panen warga yang sudah tumbuh kecambah didalam karung akibat tergenag air, Jumat (19/12/2025) Foto Abdul Rafar / pasesatu |
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Pascabanjir Bandang yang melanda Aceh Utara, penderitaan petani kian bertambah. Tak hanya rumah dan harta benda yang terendam, hasil panen berupa gabah yang selama berbulan-bulan menjadi tumpuan hidup mereka ikut rusak, bahkan sebagian di antaranya sudah bertunas di dalam karung akibat terlalu lama terendam air.
Di beberapa gampong sentra produksi padi, tumpukan karung gabah tampak basah, berbau, dan mulai ditumbuhi kecambah. Gabah yang seharusnya menjadi sumber penghasilan utama keluarga petani kini kehilangan nilai jual. Kondisi ini memaksa petani menelan kerugian besar di tengah keterbatasan ekonomi pascabencana.
Pemerintah daerah bersama dinas terkait pun didesak segera turun tangan membeli gabah milik petani terdampak banjir. Langkah tersebut dinilai penting sebagai upaya penyelamatan ekonomi petani kecil agar tidak semakin terpuruk.
![]() |
| Seorang warga Aceh Utara sedang menjemur padi di badan jalan yang penuh lumpur dan kondisi padi yang sudah ditumbuhi kecambah |
Sejumlah petani dan pemerhati pertanian menilai, gabah yang terendam banjir tidak semestinya dibiarkan membusuk atau hanya dihargai sangat murah oleh tengkulak. Pemerintah daerah, melalui dinas pertanian maupun dinas pangan, diharapkan hadir sebagai penyangga dengan menyerap gabah warga agar tetap memiliki nilai ekonomi.
“Ini bukan sekadar soal gabah rusak, tapi soal hidup petani. Ada gabah yang sudah tumbuh di dalam karung karena terlalu lama tergenang. Kalau tidak dibeli pemerintah, petani benar-benar habis,” ujar seorang ibu rumah tangga, istri petani, saat ditemui media ini, Jumat (19/12/2025).
Ia menuturkan, selama ini penanganan pascabanjir di sektor pertanian kerap berakhir pada kerugian total petani. Gabah yang dianggap tidak layak konsumsi sering kali dialihkan menjadi pupuk atau bahkan dibuang, tanpa skema penyelamatan ekonomi yang jelas bagi petani kecil.
Menurutnya, kerja sama pemerintah dengan perusahaan pengolahan tepung dinilai lebih rasional dan bernilai tambah. Gabah yang kualitasnya menurun masih dapat diolah menjadi bahan baku tepung dengan standar industri tertentu, sehingga tetap memiliki nilai jual dan tidak sepenuhnya merugikan petani.
“Kalau dijadikan pupuk, nilainya sangat rendah. Petani tetap rugi. Tapi kalau diolah jadi tepung, masih ada harga, masih ada harapan untuk bertahan hidup,” katanya.
Usulan tersebut dinilai sejalan dengan semangat perlindungan petani sebagaimana diamanatkan dalam kebijakan ketahanan pangan nasional. Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya fokus pada bantuan pangan pascabencana, tetapi juga menyusun kebijakan konkret untuk menyelamatkan hasil pertanian warga yang terdampak banjir.
Selain menyerap gabah, pemerintah juga didorong menyiapkan skema anggaran darurat serta regulasi khusus agar pembelian gabah terdampak bencana tidak terhambat prosedur birokrasi yang berbelit.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari dinas terkait mengenai rencana pembelian gabah petani terdampak banjir. Warga berharap pemerintah segera mengambil keputusan nyata sebelum kerugian petani semakin meluas dan krisis ekonomi di pedesaan kian dalam.(*)

