BERITA TERKINI

Kelangkaan LPG 3 Kg di Aceh Utara: Pasokan Berlebih, Warga Tetap Sulit, Dinas Beberkan Penyebab

Seorang warga mengayuh sepeda sambil membawa tabung gas melon di jalanan sepi sebuah desa. Langkanya gas melon membuat warga harus berkeliling mencari ke berbagai tempat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, Kamis 30/10/2025. Foto: pasesatu.com

ACEH UTARA | PASESATU.COM — Di tengah keluhan warga yang kian meluas, kelangkaan gas LPG 3 kilogram di Aceh Utara memunculkan tanda tanya besar. Meski pasokan dari Pertamina disebutkan melebihi kebutuhan, sejumlah pangkalan tetap kosong dan masyarakat harus antre panjang untuk mendapatkan satu tabung gas bersubsidi.

Di balik kegelisahan warga, Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi, dan UKM Aceh Utara akhirnya angkat bicara. Kepala Bidang Perdagangan, Irwandi, mengungkapkan bahwa sebenarnya pangkalan menerima distribusi secara rutin. 

“Dalam seminggu, pangkalan mendapat jatah dua kali distribusi. Sekali kirim ada sekitar 80 hingga 150 tabung. Sementara untuk rumah tangga miskin, alokasi per bulan sekitar 4 sampai 8 tabung,” ujarnya, pada Senin 17 November 2025 Kepada PASESATU.COM . 


Pernyataan tersebut sontak memunculkan pertanyaan baru: jika pasokan lancar, mengapa tabung tetap langka?

Menjawab hal itu, Irwandi menyebutkan bahwa Pemerintah Kabupaten Aceh Utara telah membentuk tim pengawasan khusus yang diketuai oleh Sekretaris Daerah, melibatkan unsur kejaksaan, kepolisian, serta dinas teknis. Tim tersebut bertugas memantau ketat alur distribusi dari agen ke pangkalan.

“Kami sudah menginstruksikan agen untuk mengawasi pangkalan. Jika ditemukan permainan atau penyimpangan, izin mereka akan dicabut,” tegasnya.

Namun, pengawasan tidak bisa dilakukan hingga ke tingkat pengecer liar. “Untuk warung atau kios, kami tidak memiliki kewenangan menindak. Regulasi hanya memberi ruang pengawasan hingga pangkalan,” jelasnya.

Di tengah berbagai dugaan yang beredar, Irwandi menyampaikan satu fakta yang disebutnya sering terjadi dan turut memperparah kelangkaan.

 “Informasi dari Pertamina menyebutkan bahwa ada sebagian warga yang membeli gas di pangkalan, lalu menjualnya kembali ke warung atau kios untuk meraih keuntungan,” katanya.

Praktik itu membuat harga di tingkat pengecer kerap melambung dan tak sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. “Inilah salah satu penyebab harga gas di warung-warung kerap tidak terkendali,” tambahnya. (*)