Aceh Masih Catat Angka Tinggi Kasus Depresi dan Kecemasan, 33 Ribu Jiwa Terindikasi
Font Terkecil
Font Terbesar
![]() |
| Ilustrasi |
BANDA ACEH | PASESATU.COM – Dinas Kesehatan Provinsi Aceh mencatat bahwa gangguan kesehatan mental, khususnya depresi dan kecemasan, masih menjadi persoalan serius di Tanah Rencong.
Berdasarkan hasil screening kesehatan gratis yang digelar hingga Oktober 2025, terdapat indikasi sekitar 33 ribu jiwa di Aceh mengalami gejala depresi.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Ferdiyus, S.K.M., M.Kes., menyatakan bahwa angka ini menunjukkan kesehatan mental masyarakat Aceh perlu mendapat perhatian lebih serius. Depresi dan kecemasan tidak boleh dianggap sepele karena berpotensi menurunkan produktivitas dan kualitas hidup.
Program screening kesehatan gratis ini dilakukan secara berkala di seluruh kabupaten/kota, menyasar masyarakat dari berbagai usia. Metode screening menggunakan kuesioner standar untuk mendeteksi gejala awal depresi dan gangguan kecemasan, sekaligus memberikan edukasi tentang pentingnya kesehatan mental.
Menurut data Dinas Kesehatan, sebagian besar kasus depresi ditemukan pada kelompok usia produktif, yakni 20–40 tahun. Faktor stres pekerjaan, tekanan ekonomi, dan perubahan sosial disebut sebagai pemicu utama meningkatnya gangguan mental di masyarakat.
Dinas Kesehatan Provinsi Aceh berencana memperluas layanan psikologis dan konseling gratis, termasuk melalui telemedicine, agar masyarakat yang terindikasi gangguan mental dapat memperoleh penanganan lebih cepat. Selain itu, program edukasi kesehatan mental juga akan digencarkan di sekolah dan komunitas untuk mencegah kasus depresi sejak dini.
"Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Pemerintah dan masyarakat harus bersinergi untuk menurunkan angka depresi dan kecemasan ini," tegas Ferdiyus.
Dengan angka indikatif 33 ribu jiwa yang terdampak, para ahli menekankan perlunya intervensi terpadu, mulai dari edukasi, deteksi dini, hingga akses perawatan psikologis yang mudah dan terjangkau. (*)
