BERITA TERKINI

Sosok Cek Bay, dan Pandangannya Terhadap 18 Tahun Perdamaian Aceh

CEK BAY

PASESATU.COM | ACEH UTARA - Siapa yang tidak mengenal dengan sosok Cek Bay, dirinya merupakan sosok yang bersahaja dan mudah bersahabat. Cek Bay sapaan akrab dari Nasrizal, merupakan eks Kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). 

Pada saat Aceh dilanda Konflik, dirinya memilih bergabung dengan GAM, untuk memperjuangkan marwah dan martabat bangsa Aceh di mata dunia, dirinya mengangkat senjata dan bergerilya untuk merebut kemerdekaan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Pria kelahiran tahun 1980 tersebut mendapatkan pendidikan militer di Cot Laba, Desa Matang Sijuek Kecamatan Baktiya Barat, Aceh Utara. Setelah mendapatkan pendidikan militer kemudian dirinya ditugaskan oleh pimpinan GAM sebagai Penembak Misterius (Petrus) selama tiga bulan di Lhoksukon.


Setelah misinya tercium oleh TNI / Polri kemudian dirinya ditarik kedalam pasukan di Wilayah Samudera Pase Daerah IV Tgk Chik di tunong, dirinya ditempat di Sagoe Kulam Meudaulat.


Jiwa terbangkit bergabung dengan GAM, berawal saat dirinya merantau ke Malaysia. Dimana Aceh saat itu memiliki kekayaan Alam yang berlimpah tapi harus hidup sengsara. Banyak pemuda dan pemudi harus terpaksa meninggalkan kampung halaman demi mencari sesuap nasi ke negara tetangga.


Atas tekat dan dasar tersebut dirinya yang memiliki sifat ke Acehan serta rasa cinta terhadap Aceh. Akhirnya mengikuti jejak sang deklarator Gerakan Aceh Merdeka Almarhum Tgk Muhammad Hasan Di Tiro.


Cek Bay nama sandi yang didapatkannya saat sudah bergabung dengan GAM, merupakan sosok yang ringan tangan dan mudah berbaur dengan masyarakat sekitar, serta memiliki tanggung jawab yang tinggi.


Setelan konflik berkepanjangan di Aceh selesai dengan Nota kesepahaman MoU Helsinki pada tanggal 15 Agustus 2005 lalu, dirinya dan ribuan eks Kombatan GAM kembali ketengah masyarakat.


Kemudian dirinya memulai karir sebagai kontraktor berkat tekat dan kerja kerasnya, karirnya pun berkembang pesat, dimana setiap pekerjaan yang dikerjakan sesuai dengan spek karena dirinya selalu memperhatikan kualitas dan kuantitas setiap apa yang dikerjakan.


Dilihat dari segi perjuangan dirinya dipercaya sebagai Ule Kompi kemudian pada tahun 2019 dirinya dicalonkan sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Utara melalui Partai Aceh (PA) yang merupakan partai lokal yang lahir setelah kesepakatan perdamaian antara pemerintah RI dan GAM.


Karena dianggap mumpuni dan mempunyai pengaruh besar di dalam masyarakat dirinya berhasil menduduki kursi di parlemen Kabupaten Aceh Utara.


Di parlemen dirinya dipercaya sebagai Ketua Komisi IV dan Juga Anggota Banggar.


Selama dirinya menduduki kursi parlemen telah banyak gebrakan yang diperjuangkan untuk kepentingan masyarakat Aceh Utara terutama masyarakat di dapil pemilihannya.


Sebagai sosok GAM yang dikenal luas masyarakat dirinya selalu mendengarkan setiap Aspirasi yang disampaikan kepadanya.


Pria yang berperawakan tinggi putih tersebut selalu menyempatkan diri untuk berbincang dan berdiskusi dengan masyarakat di warung kopi. Hal itu merupakan karakter yang sudah melekat padanya.


Menurutnya, Karakteristik orang Aceh selalu menyampaikan setiap ide dan aspirasi serta diskusi tertentu di Warung Kopi. Maka warung kopi di Aceh berbeda dengan ditempat lain, warkop di Aceh adalah sentral informasi.


Berbekal informasi yang didapatkannya dari masyarakat dirinya membahas permasalahan tersebut ke parlemen. 


Selama dirinya menjabat sebagai Anggota DPRK Aceh Utara telah banyak menyerap aspirasi masyarakat, salah satunya tentang infrastruktur jalan dan juga kegiatan sosial lainnya.


Dirinya mempunyai ide untuk membangun Aceh khususnya Aceh Utara agar tidak hanya bergantung pada APBK yang selama ini di gelontorkan, Namun pemerintah daerah harus mempunyai inovasi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.


Dimana selama ini kita ketahui bersama Aceh Utara memiliki areal persawahan yang luas, perkebunan, laut dan pertambakan.


Maka pemerintah harus punya inovasi untuk meningkatkan taraf perekonomian masyarakat dengan fokus terhadap sektor pertanian, perkebunan dan perikanan.


Salah satunya dengan mengundang para investor untuk berani berinvestasi di bumi Pase ini. Sehingga setiap hasil dari sektor -sektor tersebut saat masa panen pemerintah bisa menjamin harga jualnya lebih tinggi.


Saat ini menurutnya, para petani, pekebun dan nelayan di Aceh Utara terpaksa menjual hasil ke luar Aceh, padahal kalau pemerintah bisa menampung dengan cara bekerja sama dengan investor maka cost nya bisa lebih murah sehingga harga jualnya akan lebih tinggi.


Nah kalau ini yang bisa kita upayakan maka perekonomian masyarakat Aceh Utara akan meningkat, Sebut Politisi Partai Aceh yang juga Keuangan Sagoe Kulam Meudaulat.


Hari ini perlu kita ketahui bahwa Aceh Utara menjadi daerah termiskin karena pemerintah tidak fokus terhadap program peningkatan ekonomi masyarakat.


Pemerintah hari ini lebih kepada mengejar penghargaan WTP, namun lupa dengan apa yang bisa ditinggalkan kepada masyarakat.


Selain itu dirinya juga menilai kesalahan ini bukanlah semata kepada pemerintah daerah namun harus kita pahami juga bahwa ini juga tanggung jawab pemerintah pusat. Salah satunya adalah dengan belum di implementasikan setiap butir-butir MoU Helsinki.


Sudah 18 tahun perdamaian antara GAM dan RI di laksanakan namun belum ada penyelesaian yang jelas. Padahal menurutnya Aceh diberi wewenang melaksanakan kewenangan dalam semua sektor publik, yang akan diselenggarakan bersamaan dengan administrasi sipil dan peradilan.


Kecuali dalam bidang hubungan luar negeri, pertahanan luar, keamanan nasional, hal ikhwal moneter dan fiskal, kekuasaan kehakiman dan kebebasan beragama, di mana kebijakan tersebut merupakan kewenangan Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan Konstitusi.


Memang selama ini sudah terbentuk kerangka penyelesaian MoU Helsinki yang dituangkan dalam Undang-undang Pemerintah Aceh (UUPA) namun perlu pengkajian ulang dan juga penyempurnaan, dan belum di implementasikan.


Salah satunya yang belum di implementasikan adalah tentang bendera, tentang pembagian hasil antara pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat dan juga ada beberapa kewenangan Aceh yang belum sepenuhnya di berikan, Sebut Cek Bay.


Saya rasa semua persoalan yang ada di Aceh akan terselesaikan baik itu terkait perekonomian kalau semua butir -butir MoU Helsinki di implementasikan semestinya.


"Jadi tidak ada dusta di dalam perdamaian yang telah disepakati, kalau semua permasalahan ini direalisasikan", Ucap Cek Bay.***