Pascabencana Banjir Bandang, Desa Tuweren Aceh Tengah Masih Dipenuhi Material Kayu
Pantauan di lapangan menunjukkan material debris tersebar di permukiman warga, lahan pertanian, serta badan jalan desa. Tumpukan kayu berukuran besar tersebut membatasi akses transportasi dan menyebabkan aktivitas ekonomi warga belum berjalan normal. Sejumlah warga mengaku belum dapat kembali mengelola kebun maupun melakukan aktivitas harian seperti sebelum bencana.
Kondisi geografis Desa Tuweren yang dikelilingi perbukitan juga masih menyisakan potensi risiko lanjutan. Gunung dan perbukitan di sekitar desa tampak tertutup awan tebal, sehingga meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan bencana hidrometeorologi susulan, terutama bagi warga dan tim yang terlibat dalam proses pembersihan.
Warga yang bermukim di sekitar lokasi tumpukan kayu menyatakan harus ekstra berhati-hati saat beraktivitas. Selain mengganggu mobilitas, material kayu tersebut dinilai berbahaya jika terjadi hujan deras yang dapat memicu pergeseran material.
“Material yang terbawa banjir bandang ini bukan hanya lumpur, tetapi didominasi kayu berukuran besar. Pembersihan secara manual sangat sulit,” ujar seorang warga saat melintas di jalan desa.
Selain menghambat pemulihan infrastruktur, tumpukan kayu juga berpotensi menimbulkan masalah baru, seperti penyumbatan alur air, risiko longsor susulan, serta ancaman kesehatan akibat lingkungan yang belum tertata.
Pemerintah daerah disebutkan telah melakukan penanganan secara bertahap dengan keterbatasan sumber daya yang ada. Namun, luasnya wilayah terdampak dan besarnya volume material banjir membuat proses pemulihan membutuhkan dukungan lintas sektor, termasuk dari pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.
Warga berharap proses pembersihan dapat dipercepat, khususnya dalam normalisasi lahan dan akses jalan desa, agar aktivitas sosial dan ekonomi dapat kembali berjalan. “Kami ingin segera bangkit, tetapi kondisi di lapangan memang masih berat,” kata seorang warga.
Sementara itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan menghindari aktivitas di area berisiko tinggi selama proses pembersihan dan pemulihan masih berlangsung.(*)
