BERITA TERKINI

Sembilan Bulan Pascabanjir, Lahan Pertanian Rusak, Jagung Manis Panton Labu Kini Bergantung dari Sumut


ACEH UTARA | PASESATU.COM
– Sembilan bulan pascabanjir besar, luka di sektor pertanian Aceh Utara ternyata belum sepenuhnya pulih. Kerusakan puluhan ribu hektare lahan pertanian tidak hanya berdampak pada petani yang kehilangan sumber penghasilan, tetapi mulai terasa hingga ke pasar.

Salah satu dampaknya kini terlihat pada pasokan jagung manis di Kota Panton Labu. Komoditas yang sebelumnya banyak dipasok dari sentra pertanian lokal, terutama Kecamatan Langkahan, kini harus didatangkan dari luar daerah, termasuk Sumatera Utara, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kondisi tersebut membuat harga jagung manis ikut terdorong naik.

“Jagung manis yang didatangkan dari Sumatera Utara sekarang sekitar Rp8.000 per kilogram. Kalau produk lokal biasanya hanya sekitar Rp6.000 per kilogram,” kata Mirwan, pedagang jagung di Panton Labu, Selasa (11/8/2026).

Menurut Mirwan, bukan hanya jagung manis saja yang didatangkan dari Sumatera Utara, bahkan 99 persen sayur mayur dan kebutuhan dapur di sini didatangkan dari sana.

Menurutnya, berkurangnya pasokan dari petani lokal tidak terlepas dari rusaknya lahan pertanian akibat banjir. Kecamatan Langkahan yang selama ini menjadi salah satu sumber pasokan jagung manis bagi pasar Panton Labu, hingga kini masih menghadapi persoalan pemulihan lahan.

Bagi pedagang, kondisi tersebut berarti biaya mendapatkan barang semakin tinggi. Bagi konsumen, harga menjadi lebih mahal. Namun bagi petani, persoalannya jauh lebih berat: lahan rusak berarti kehilangan kesempatan untuk kembali bercocok tanam dan mendapatkan penghasilan.

Sembilan bulan berlalu sejak banjir menerjang, tetapi sebagian lahan pertanian warga belum kembali produktif. Tanah yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru masih menyisakan persoalan yang harus diselesaikan.

Ironisnya, Aceh Utara memiliki lahan pertanian yang luas dan masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Namun ketika produksi lokal terganggu, kebutuhan pasar justru harus dipenuhi dari daerah lain.

Kondisi ini semestinya menjadi perhatian serius Dinas Pertanian dan instansi terkait. Pemulihan pascabanjir tidak cukup hanya dengan memperbaiki infrastruktur, tetapi juga harus memastikan lahan pertanian kembali produktif, petani kembali menanam, dan rantai pasokan pangan lokal kembali berjalan.

Jika pemulihan terus berjalan lambat, bukan tidak mungkin ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah akan semakin besar. Dampaknya bukan hanya harga komoditas yang meningkat, tetapi juga semakin lemahnya ekonomi petani lokal.

Pertanyaannya, sampai kapan petani Aceh Utara harus menunggu lahannya kembali hidup?

Jagung yang hari ini didatangkan dari Sumatera Utara dengan harga Rp8.000 per kilogram seharusnya menjadi pengingat bahwa persoalan pertanian pascabanjir bukan sekadar angka kerusakan lahan. Di balik setiap hektare yang belum pulih, ada keluarga petani yang kehilangan pendapatan dan ada kebutuhan pangan masyarakat yang harus tetap dipenuhi.

Kini bola berada di tangan pemerintah daerah dan dinas terkait. Pemulihan lahan pertanian bukan hanya soal mengembalikan produksi, tetapi mengembalikan harapan petani agar bisa kembali hidup dari tanahnya sendiri.***

Penulis : Abdul Rafar