BERITA TERKINI

Ketika Semen Menjadi Barang Langka, Harapan Warga Aceh Utara Ikut Tertahan

Ketika Semen Menjadi Barang Langka, Harapan Warga Aceh Utara Ikut Tertahan

ACEH UTARA | PASESATU.COM
— Pagi itu, seorang warga keluar dari sebuah toko bahan bangunan dengan tangan kosong. Bukan karena tak membawa uang, melainkan karena barang yang dicarinya memang tak tersedia. Semen, material yang selama ini dianggap mudah didapat, kini justru menjadi barang yang sulit ditemukan di sejumlah wilayah Aceh Utara.

Fenomena itu telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Di tengah upaya pemulihan pascabanjir besar yang menerjang Aceh pada 2025 lalu, kelangkaan semen memunculkan keresahan baru. Bagi warga yang sedang memperbaiki rumah, membangun kembali usaha, atau menunggu rampungnya fasilitas umum, keterbatasan pasokan material menjadi tantangan yang tidak ringan.

Aceh Utara termasuk daerah yang terdampak cukup parah akibat banjir. Proses rehabilitasi dan rekonstruksi masih berlangsung di berbagai titik. Sejumlah sekolah bahkan masih menjalankan kegiatan belajar mengajar di tenda maupun meunasah karena bangunan permanennya belum selesai diperbaiki.

Belum diketahui apakah keterbatasan pasokan semen menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penyelesaian proyek-proyek tersebut. Namun, di tingkat masyarakat, persoalan itu mulai menjadi bahan perbincangan.

Usman, warga Aceh Utara, mengatakan kelangkaan semen telah dirasakan oleh banyak orang.

"Yang membuat kami heran bukan hanya harganya yang naik, tetapi barangnya juga sulit dicari. Kalau stok tersedia, masyarakat masih bisa menyesuaikan dengan harga. Sekarang justru barangnya yang susah didapat," katanya. Pada Selasa 14 Juli 2026.

Menurut Usman, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memperlambat berbagai aktivitas pembangunan yang sedang berjalan.

Keluhan serupa disampaikan seorang pedagang bahan bangunan. Ia mengaku telah memesan semen kepada distributor sekitar 20 hari lalu. Namun hingga kini, pasokan yang ditunggu belum juga tiba.

Akibatnya, ia kesulitan memberikan kepastian kepada pelanggan yang hampir setiap hari menanyakan ketersediaan barang.

"Dulu kami masih berani menerima pemesanan karena perkiraan barang datang cukup jelas. Sekarang kami tidak bisa memastikan kapan semen masuk. Pasokan belum ada, sementara harga juga terus berubah," ujarnya.

Bagi pedagang, situasi tersebut bukan hanya berdampak pada penjualan. Kepercayaan pelanggan juga ikut dipertaruhkan ketika mereka tidak dapat memberikan kepastian mengenai ketersediaan barang.

Sementara itu, harga Semen Padang di sejumlah toko bangunan di Kota Panton Labu, Kabupaten Aceh Utara, kembali mengalami kenaikan. Berdasarkan pantauan pasesatu.com pada Selasa (14/7/2026), harga Semen Padang kini mencapai Rp80.000 per sak.

Kenaikan tersebut melanjutkan tren peningkatan harga bahan bangunan dalam beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, harga Semen Padang di kawasan itu masih berada di kisaran Rp70.000 per sak, sehingga terjadi kenaikan sekitar Rp10.000 per sak. Tren kenaikan hingga mencapai Rp80.000 per sak juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lain di Aceh.

Bagi masyarakat, persoalan yang dihadapi bukan hanya kenaikan harga. Di sejumlah toko bangunan, pasokan semen juga belum sepenuhnya normal sehingga pembeli kerap pulang tanpa membawa barang yang dibutuhkan. Kondisi ini membuat biaya pembangunan maupun renovasi rumah semakin besar sekaligus memperlambat pekerjaan yang sedang berjalan.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat berharap harga semen dapat kembali stabil dan distribusinya segera lancar. Kepastian pasokan dinilai menjadi faktor penting agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabanjir dapat berjalan sesuai rencana, termasuk pembangunan fasilitas pendidikan yang hingga kini masih berlangsung di sejumlah titik.

Selain semen, warga juga mulai mengkhawatirkan kenaikan harga bahan bangunan lainnya yang berpotensi meningkatkan biaya konstruksi secara keseluruhan. Jika tren tersebut terus berlanjut, beban masyarakat dikhawatirkan akan semakin berat, sementara upaya pemulihan pascabencana membutuhkan dukungan material yang memadai.

Hingga berita ini ditulis, belum diperoleh keterangan resmi dari distributor maupun instansi terkait mengenai penyebab kelangkaan semen yang dikeluhkan masyarakat serta langkah yang disiapkan untuk mengatasi persoalan tersebut.***

Penulis : Syahrul Usman