Dari Meja Sarapan Menuju Pengabdian: Kisah Tgk Imum Gampong Aceh Utara Menjemput Amanah Baru
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Pagi ini, aroma kopi dan hidangan sederhana memenuhi sebuah sudut di Kecamatan Tanah Jambo Aye. Di antara gelak tawa yang sesekali pecah, puluhan Tgk Imum Gampong duduk berdampingan menikmati sarapan. Tidak ada kemewahan. Yang ada hanyalah kebersamaan, rasa syukur, dan harapan.
Mereka bukan sedang menghadiri sebuah perayaan. Mereka bersiap menempuh perjalanan menuju Lhoksukon untuk menerima sepeda motor operasional yang akan disalurkan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara di halaman Kantor Bupati, Senin (27/7/2026).
Bagi sebagian orang, sepeda motor mungkin hanyalah kendaraan. Namun, bagi seorang Tgk Imum Gampong yang setiap hari melayani masyarakat, kendaraan itu bisa menjadi jembatan menuju pengabdian yang lebih luas.
Mereka adalah orang-orang yang kerap hadir ketika azan berkumandang, memimpin doa dalam suasana duka, membimbing akad nikah, mengajar anak-anak mengaji, hingga mendatangi rumah warga yang membutuhkan nasihat dan penguatan iman. Di balik tugas itu, tidak sedikit yang harus menempuh jalan berlumpur, melintasi perkebunan, bahkan menyeberangi sungai kecil demi memenuhi panggilan masyarakat.
Karena itulah, penyaluran motor operasional bukan sekadar penyerahan aset pemerintah. Di mata para Tgk Imum Gampong, bantuan tersebut menjadi simbol perhatian terhadap pengabdian yang selama ini dijalankan dengan penuh keikhlasan.
Sebelum keberangkatan, sarapan bersama menjadi momen yang sederhana, tetapi bermakna. Mereka saling bertukar cerita, menyampaikan doa, dan berharap perjalanan hari itu berjalan lancar. Tidak ada yang menonjolkan diri. Semua berangkat dengan tujuan yang sama, yakni membawa pulang amanah yang kelak akan digunakan untuk melayani masyarakat di gampong masing-masing.
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara melalui program penyaluran motor operasional ini berupaya memperkuat dukungan terhadap peran strategis Tgk Imum Gampong sebagai pembina kehidupan keagamaan dan sosial di tingkat desa. Kendaraan tersebut diharapkan mampu mempermudah mobilitas mereka sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat berlangsung lebih cepat, lebih luas, dan lebih optimal.
Ketika rombongan meninggalkan Tanah Jambo Aye menuju Lhoksukon, yang mereka bawa bukan hanya harapan untuk menerima sebuah kendaraan. Mereka membawa tekad yang sama seperti hari-hari sebelumnya: terus hadir di tengah masyarakat, menjadi penyejuk dalam setiap persoalan, dan menjaga cahaya syiar Islam tetap menyala di setiap gampong di Aceh Utara.
Sebab pada akhirnya, pengabdian seorang Tgk Imum tidak diukur dari kendaraan yang dikendarainya, melainkan dari langkah-langkah yang tak pernah lelah ia tempuh untuk melayani umat. Motor operasional hanyalah sarana. Sementara keikhlasan dan dedikasi tetap menjadi tenaga utama yang menggerakkan perjalanan mereka.***



