Senyum Yusnidar di Hunian Tetap, Secercah Harapan Pascabencana di Aceh Utara
ACEH UTARA | PASESATU.COM – Di tengah upaya pemulihan pascabencana yang melanda sejumlah wilayah di Aceh Utara, secercah kebahagiaan terpancar dari wajah Yusnidar. Janda yang menjadi salah satu warga terdampak banjir itu kini dapat menempati hunian tetap (huntap) di Gampong Meunasah Bujok, Kecamatan Baktiya, sebuah tempat tinggal yang memberinya harapan baru untuk menata kembali kehidupan bersama keluarga.
Momen penuh haru tersebut terlihat saat Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil atau yang akrab disapa Ayah Wa, meninjau langsung kawasan hunian tetap bagi masyarakat terdampak banjir, Kamis (4/6/2026).
Dengan senyum yang terus mengembang, Yusnidar menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara yang telah membantu menyediakan tempat tinggal yang layak beserta berbagai fasilitas pendukung.
"Saya sangat senang dan berterima kasih kepada Ayah Wa selaku Bupati Aceh Utara yang telah memberikan bantuan huntap ini lengkap dengan fasilitasnya, seperti kursi, meja, tempat tidur, dan perlengkapan dapur," ujar Yusnidar dengan mata berkaca-kaca.
Bagi Yusnidar, rumah sederhana yang kini ditempatinya bukan sekadar bangunan baru. Hunian tersebut menjadi simbol harapan dan awal kehidupan yang lebih baik setelah berbulan-bulan menghadapi ketidakpastian akibat bencana yang membuat banyak warga kehilangan tempat tinggal.
Ia menuturkan bahwa kehidupan keluarganya perlahan mulai kembali normal. Putranya kini dapat melanjutkan pendidikan dengan lebih tenang, sementara aktivitas keagamaan yang selama ini menjadi bagian penting dalam keseharian keluarga tetap dapat dijalankan.
"Alhamdulillah, anak saya tetap bisa sekolah dan pada malam hari masih bisa mengaji seperti biasa," tuturnya.
Kisah Yusnidar menjadi potret nyata bahwa program hunian tetap tidak hanya menghadirkan bangunan fisik sebagai tempat tinggal, tetapi juga memulihkan rasa aman, kenyamanan, dan optimisme bagi masyarakat yang terdampak bencana.
Di balik dinding-dinding huntap yang berdiri kokoh, tersimpan kisah perjuangan para penyintas yang berusaha bangkit dari keterpurukan. Setiap rumah yang dibangun menjadi simbol hadirnya kepedulian dan komitmen pemerintah dalam mendampingi masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik.
Senyum Yusnidar hari itu menjadi gambaran sederhana namun bermakna tentang arti sebuah rumah bagi korban bencana. Bukan hanya tempat berlindung dari panas dan hujan, melainkan ruang untuk membangun kembali harapan, merajut mimpi-mimpi yang sempat tertunda, serta menatap masa depan dengan keyakinan yang baru.***





