Rusia Berminat Bangun Kilang dan Fasilitas Penyimpanan Migas di Indonesia
JAKARTA | PASESATU.COM — Pemerintah Indonesia terus memperkuat ketahanan energi nasional melalui diversifikasi pasokan dan pembangunan infrastruktur strategis minyak dan gas bumi. Dalam upaya tersebut, Rusia menyatakan minat untuk berinvestasi dalam pembangunan kilang minyak serta fasilitas penyimpanan (storage) di Indonesia.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan rencana tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Menurut Bahlil, pembahasan kerja sama itu dilakukan atas arahan Presiden Prabowo setelah pertemuan bilateral kedua kepala negara. Ia menyebut pemerintah Rusia telah menyampaikan dukungan untuk penguatan sektor energi Indonesia.
Saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (17/4), Bahlil menjelaskan bahwa Indonesia saat ini masih menghadapi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM). Konsumsi BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi minyak dalam negeri baru sekitar 600 ribu barel per hari. Dengan kondisi tersebut, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel per hari.
Untuk mengurangi impor, pemerintah tengah mengoptimalkan peningkatan kapasitas kilang melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Selain itu, pemerintah juga akan menerapkan program mandatori biodiesel 50 persen (B50) yang dijadwalkan mulai berlaku pada Juli 2026.
Bahlil menyebut penambahan kapasitas dari RDMP Balikpapan diperkirakan mencapai sekitar 5,6 hingga 5,7 juta kiloliter per tahun. Dengan tambahan tersebut, produksi dalam negeri diproyeksikan mendekati 20 juta kiloliter, sehingga kebutuhan impor dapat ditekan hingga sekitar 50 persen dari total konsumsi nasional.
Terkait investasi dari Rusia, pemerintah saat ini masih mematangkan skema kerja sama, baik melalui mekanisme antarpemerintah (government to government/G2G) maupun antarbisnis (business to business/B2B).
Ia menambahkan, finalisasi investasi masih memerlukan satu hingga dua putaran pembahasan lanjutan, khususnya terkait pembangunan kilang dan fasilitas penyimpanan.
Bahlil juga menegaskan bahwa rencana proyek tersebut berbeda dengan pengembangan Kilang Tuban yang merupakan kerja sama antara PT Pertamina dan perusahaan energi Rusia, Rosneft Oil Company. Menurutnya, skala proyek yang sedang dijajaki saat ini tidak sebesar proyek Kilang Tuban.
Pembangunan kilang dan fasilitas penyimpanan dinilai penting untuk meningkatkan kapasitas cadangan energi nasional, menjaga stabilitas pasokan, serta mengurangi dampak fluktuasi pasar energi global terhadap harga dan ketersediaan BBM di dalam negeri.***

