BERITA TERKINI

Di Jambo Desa, Angin Sore dan Kopi yang Menyimpan Keresahan


ACEH UTARA | PASESATU.COM
-- Angin sore berhembus penuh kelembutan, menyapu pelan dedaunan di sekitar jambo yang berdiri sederhana di tengah desa. Dari kejauhan, hamparan sawah membentang hijau kecokelatan, menyisakan jejak musim yang baru saja berlalu. 

Semilir angin membawa aroma tanah dan wangi kopi panas yang mengepul dari gelas-gelas kaca di atas meja kayu.

Di tempat itulah, warga duduk bersila, meneguk kopi perlahan sambil memandang langit yang mulai berwarna jingga. Senja selalu membawa ketenangan, tetapi sore itu ada sesuatu yang tak sepenuhnya damai.

Percakapan di jambo mengalir lembut, setenang angin yang berhembus. Namun di balik kelembutan itu, tersimpan kegelisahan yang sulit disembunyikan.
Mereka membahas sawah yang mulai kembali digarap, tentang langkah kaki petani yang turun ke lumpur demi menanam harapan baru. Mereka juga berbicara soal uang jadup yang masih ditunggu sebagian warga, serta polemik desil yang belakangan menjadi topik hangat di setiap sudut desa.

Seorang warga mengangkat gelas kopinya, lalu berkata pelan, seolah menyatu dengan suara angin sore, “Jangan sampai desil menjadi degil.”

Kalimat itu melayang di udara, menyentuh hati mereka yang duduk di jambo. Kata-kata sederhana, namun penuh makna. Sebuah kekhawatiran agar data dan kebijakan tidak berubah menjadi keras kepala, menutup telinga dari suara rakyat kecil.

Angin sore terus berhembus lembut, tetapi kegelisahan warga tetap terasa. Di wajah-wajah yang mulai diterpa cahaya senja, tersimpan pertanyaan yang belum juga menemukan jawaban.

Di jambo desa itu, kopi bukan hanya teman berbincang, tetapi saksi bisu atas harapan dan keresahan masyarakat. Bahwa di tengah kelembutan sore, ada suara yang ingin didengar suara mereka yang setiap hari berjuang di sawah, di rumah-rumah yang masih menyimpan bekas banjir, dan di hati yang masih menunggu kepastian.

Karena kadang, di tempat sesederhana jambo, lahir percakapan paling jujur tentang nasib sebuah desa.***

Penulis : Abdul Rafar