Harga Telur Meroket, Pelaku UMKM Jajanan Sekolah di Panton Labu Terancam Gulung Tikar
ACEH UTARA | PASESATU.COM – Kenaikan harga telur ayam yang terus merangkak naik hingga menyentuh angka Rp55.000–Rp57.000 per papan mulai mengancam kelangsungan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di wilayah Kota Panton Labu, Kabupaten Aceh Utara. Para pedagang jajanan sekolah mengaku kesulitan menyeimbangkan biaya produksi dengan harga jual, karena tidak memungkinkan menaikkan harga kepada konsumen yang mayoritas anak-anak sekolah.
Salah satu pelaku UMKM, Amat (35), yang sehari-hari berjualan sosis telur (sostel) di lingkungan sekolah kawasan Panton Labu, menyebut lonjakan harga telur dalam sepekan terakhir sangat membebani biaya operasional usahanya.
“Setiap hari saya menghabiskan tiga papan telur. Tapi harga jual tidak bisa kita naikkan karena pembeli kita anak-anak sekolah. Satu tusuk tetap Rp1.000. Kalau porsi kita kecilkan, nanti pembeli kecewa,” ujar Amat, yang akrab disapa Bang Amat, kepada wartawan, Kamis (25/7/2025).
Ia mengaku selama ini berupaya menekan biaya produksi agar tetap bisa berjualan, namun dengan harga telur yang semakin mahal, margin keuntungan semakin menipis. Bila kondisi ini terus berlangsung, ia khawatir harus menutup usahanya karena tidak lagi mampu menutupi modal harian.
“Harapan kami, pemerintah bisa segera ambil langkah untuk menurunkan harga telur atau memberi subsidi bagi pelaku usaha kecil seperti kami. Kalau tidak, kami bisa gulung tikar,” tambahnya.
Kenaikan harga telur ini tidak hanya dirasakan oleh penjual sostel, tetapi juga oleh pelaku UMKM lainnya yang bergerak di sektor kuliner berbahan dasar telur, seperti penjual kue basah, martabak mini, donat, hingga nasi goreng. Mereka turut mengeluhkan kondisi yang makin menyulitkan, apalagi daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih pasca-pandemi dan tekanan inflasi.
Sejumlah pedagang menyebut, selain harga telur, komoditas bahan pokok lain seperti minyak goreng dan tepung terigu juga mengalami fluktuasi harga. Hal ini membuat ongkos produksi semakin tinggi, sementara harga jual tidak bisa serta merta disesuaikan.
“Kami tidak bisa serta merta menaikkan harga. Konsumen bisa kabur. Kalau bahan pokok terus naik, bisa-bisa kami hanya kerja untuk menutupi modal saja,” ungkap Sulastri, penjual kue tradisional yang ditemui di pasar Panton Labu.
Pelaku usaha kecil berharap pemerintah daerah, melalui dinas terkait seperti Dinas Perdagangan dan Dinas Koperasi UMKM, dapat mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok yang menjadi penopang usaha mereka.
Mereka juga mendorong adanya intervensi berupa subsidi harga bahan baku, bantuan produksi, atau insentif langsung bagi UMKM terdampak agar roda usaha tetap berjalan dan tidak memicu gelombang pengangguran baru di sektor informal.
Sejumlah pihak menilai, jika tidak ada kebijakan penanganan yang cepat dan tepat, lonjakan harga bahan pokok seperti telur bisa berujung pada inflasi yang lebih tinggi dan melemahkan ketahanan ekonomi rumah tangga, khususnya di lapisan bawah.(*)
