Sembilan Bulan Setelah Banjir, Junaidi Menanam Harapan di Atas Lumpur
Font Terkecil
Font Terbesar
Dari kebun timun di Desa Matang Maneh, seorang ayah lima anak berusaha menghidupkan kembali keluarganya setelah kehilangan banyak hal akibat banjir.
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Embun pagi masih menempel di daun-daun timun ketika Junaidi Salat (38) mulai memeriksa tanaman di kebunnya. Tangannya menyentuh satu per satu batang yang merambat di atas tanah. Sebagian buah dipetik, dikumpulkan, lalu disiapkan untuk dibawa ke pasar.
Tidak ada yang istimewa dari timun-timun itu jika dilihat sekilas.
Namun, bagi Junaidi, setiap buah yang dipanen memiliki arti lain. Ada beras yang harus dibeli, kebutuhan sekolah lima anak yang harus dipikirkan, kebutuhan rumah tangga yang menunggu, dan biaya kebun yang harus kembali dikeluarkan.
Di tanah yang sembilan bulan lalu masih menjadi bagian dari bencana, Junaidi kini menanam satu hal yang jauh lebih penting daripada sekadar sayuran: kesempatan untuk bertahan.
Pria yang tinggal di Desa Matang Maneh, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, itu memilih kembali ke kebun setelah banjir besar memaksa dirinya bersama keluarga mengungsi.
Air memang telah surut.
Lumpur perlahan mengering.
Tetapi kehidupan tidak serta-merta kembali seperti semula.
“Kita masih bersyukur masih bisa tinggal di rumah yang serba kekurangan. Kalau dibandingkan dengan saudara-saudara kita di daerah lain, kita masih bisa bertahan,” tutur Junaidi dengan mata berkaca-kaca, Kamis (17/9/2026).
Kalimat itu menjadi gambaran bagaimana Junaidi memandang hidup setelah bencana. Ia tidak sedang mengatakan semuanya baik-baik saja. Ia hanya memilih bersyukur atas apa yang masih dimiliki, sembari terus mencari cara agar keluarganya bisa melewati hari demi hari.
Beberapa tahun sebelumnya, Junaidi pernah mencoba mengadu nasib di Malaysia.
Seperti banyak orang yang pergi merantau, ia berharap mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Namun, perjalanan itu akhirnya membawanya kembali ke kampung halaman.
Ia memilih berkumpul bersama istri dan kelima anaknya.
Hidup sederhana di tanah sendiri menjadi pilihan.
Kemudian banjir datang.
Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung harus ditinggalkan. Junaidi bersama keluarganya mengungsi ke sebuah pesantren. Kebun yang menjadi sumber penghidupan pun tidak luput dari terjangan air.
Bagi keluarga Junaidi, pengungsian bukan sekadar perpindahan tempat tinggal.
Itu adalah awal dari perjuangan baru.
Ketika air surut, mereka harus kembali menghadapi pertanyaan yang lebih sulit: bagaimana memulai kehidupan dari kondisi yang tersisa?
Waktu terus berjalan.
Sembilan bulan telah berlalu sejak banjir besar itu menerjang.
Namun, bagi Junaidi, bencana belum sepenuhnya menjadi cerita masa lalu.
Lumpur yang tersisa dari banjir perlahan ia ubah menjadi lahan pertanian. Ia kembali menanam palawija, termasuk timun sayur.
Setiap hari ia menghabiskan waktu di kebun.
Selepas subuh, dua hari sekali, hasil panen dibawa menuju Pasar Panton Labu.
Perjalanan itu menjadi bagian dari rutinitasnya.
Tidak ada kepastian berapa banyak uang yang akan dibawa pulang.
Dalam beberapa hari terakhir, menurut Junaidi, harga timun yang biasanya sekitar Rp5.000 per kilogram turun menjadi sekitar Rp4.000 per kilogram.
Bagi petani dengan modal terbatas, perubahan harga tersebut ikut memengaruhi pendapatan.
Sebab uang hasil penjualan bukan hanya untuk kebutuhan makan.
Sebagian harus kembali ditanam ke kebun.
Bibit harus dibeli.
Pupuk harus tersedia.
Pestisida juga dibutuhkan.
Sementara di rumah, lima anak tetap memiliki kebutuhan masing-masing.
Di situlah perputaran hidup Junaidi berlangsung.
Menanam, merawat, memanen, menjual, memenuhi kebutuhan keluarga, lalu kembali menanam.
Tidak banyak ruang untuk berhenti.
Junaidi pernah mencoba menawarkan timun hasil kebunnya kepada salah satu dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut pengakuannya, harga yang ditawarkan sekitar Rp3.000 per kilogram.
Ia kemudian tetap menjual hasil kebunnya ke pasar.
Bukan karena harga tersebut selalu tinggi, melainkan karena hasil panen harus segera dipasarkan.
Timun yang telah dipanen tidak bisa begitu saja dibiarkan menumpuk.
Di sisi lain, kebutuhan keluarga juga tidak mengenal kata menunggu.
Setiap rupiah dari hasil kebun harus dihitung.
Berapa untuk beras.
Berapa untuk lauk.
Berapa untuk kebutuhan anak.
Dan berapa yang harus disisihkan untuk membuat kebun tetap menghasilkan.
Bagi Junaidi, salah menghitung pengeluaran bisa berarti berkurangnya kemampuan untuk kembali menanam.
Di tengah upaya memulihkan kehidupan pascabanjir, Junaidi mengatakan dirinya hingga kini belum menerima bantuan berupa jadup, DTH maupun stimulan.
Meski demikian, ia tidak memilih untuk berhenti bekerja.
Kebun menjadi salah satu tumpuan yang masih bisa diandalkan.
Ia mengolah lahan yang ada, merawat tanaman yang tumbuh, kemudian membawa hasilnya ke pasar.
Bukan pekerjaan ringan.
Namun, di rumah ada keluarga yang menunggu.
Karena itu, selama masih mampu bekerja, Junaidi memilih kembali ke kebun.
Perjuangan Junaidi tidak berhenti pada kebutuhan keluarganya.
Ia juga menyimpan harapan bagi petani lokal.
Menurutnya, hasil palawija dari petani Aceh Utara memiliki peluang untuk memenuhi kebutuhan pasar di daerah sendiri. Dengan begitu, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat dikurangi.
Ia menyebut pasokan sayuran selama ini antara lain datang dari Tanah Karo, Sumatera Utara, dan Tanah Gayo, Aceh Tengah.
“Harapan saya, hasil palawija dari petani di sini bisa memenuhi pasar. Jangan terus bergantung dari daerah lain,” harapnya.
Harapan itu lahir dari seseorang yang setiap hari berhadapan langsung dengan tanah, tanaman, harga pasar, dan kebutuhan keluarga.
Ia tahu bagaimana sulitnya menjadi petani ketika harga berubah.
Ia juga tahu bagaimana beratnya memulai kembali setelah bencana.
Tetapi ia tetap memilih menanam.
Menjelang siang, kebun kembali lebih tenang.
Junaidi mungkin tidak memiliki modal besar.
Ia juga tidak memiliki kepastian bahwa setiap panen akan memberikan keuntungan yang cukup.
Tetapi ia memiliki sesuatu yang membuatnya terus kembali ke tanah: tanggung jawab kepada keluarganya.
Setiap timun yang dipanen adalah hasil dari tangan yang bekerja.
Setiap kilogram yang terjual menjadi bagian dari kebutuhan rumah.
Dan setiap bibit yang kembali ditanam menjadi harapan untuk panen berikutnya.
Sembilan bulan setelah banjir, Junaidi memang belum sepenuhnya meninggalkan kesulitan.
Namun, ia tidak membiarkan bencana menjadi akhir dari ceritanya.
Ia memilih menanam kembali.
Di atas tanah yang pernah ditenggelamkan air, seorang ayah lima anak sedang membangun kehidupannya sedikit demi sedikit.
Bukan dengan sesuatu yang besar, melainkan dengan timun, tanah, tenaga, dan keyakinan bahwa selama masih bisa bekerja, masih ada alasan untuk bertahan.
Editor : Syahrul



