Sembilan Bulan Pascabanjir, Warga Aceh Timur Kembali Garap Lahan Berlumpur demi Bertahan Hidup
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH TIMUR | PASESATU.COM — Sembilan bulan setelah banjir besar menerjang, warga Tanjong Meuleuweuk, Gampong Pante Rambong, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, kembali berupaya menghidupkan lahan pertanian yang masih menyisakan endapan lumpur.
Di tengah kondisi tanah yang belum sepenuhnya pulih, warga mulai mengolah lahan dengan harapan dapat kembali menanam dan memenuhi kebutuhan keluarga. Bagi mereka, bertani bukan sekadar pekerjaan, melainkan sumber utama penghidupan.
Pada Senin (21/9/2026), sejumlah warga terlihat melakukan penyemprotan di lahan yang masih dipenuhi endapan lumpur. Langkah tersebut menjadi tahap awal sebelum mereka mencoba menanam kacang.
Upaya itu dilakukan meskipun kondisi lahan masih keras, tandus, dan belum sepenuhnya kembali seperti sebelum bencana.
Seorang warga mengungkapkan rencananya untuk menanam kacang setelah proses penyemprotan selesai. Namun, harapan tersebut masih dibayangi kekhawatiran terhadap kemungkinan banjir kembali melanda saat musim penghujan.
“Rencana saya mau menanam kacang. Ini baru tahap penyemprotan. Mudah-mudahan musim penghujan ini tidak banjir. Hanya di sini harapan keluarga,” tutur warga tersebut.
Pernyataan itu menggambarkan kondisi warga yang berusaha bangkit setelah menghadapi dampak banjir berkepanjangan. Lahan yang sebelumnya menjadi tumpuan ekonomi keluarga kini harus kembali diolah dengan berbagai keterbatasan.
Warga menyadari bahwa hujan deras dan luapan air dapat mengancam lahan yang baru saja dipersiapkan. Jika banjir kembali terjadi, endapan lumpur berpotensi menutupi lahan dan menghambat proses budidaya tanaman.
Meski demikian, keterbatasan pilihan membuat warga tetap berupaya memanfaatkan tanah yang mereka miliki.
Banjir yang melanda kawasan tersebut tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga memengaruhi keberlangsungan mata pencaharian masyarakat.
Endapan lumpur yang masih tersisa menjadi tantangan bagi warga untuk mengembalikan produktivitas lahan. Proses pemulihan membutuhkan tenaga, waktu, serta kondisi cuaca yang mendukung.
Bagi petani di Tanjong Meuleuweuk, setiap tahap pengolahan lahan menjadi bentuk perjuangan untuk mempertahankan kehidupan keluarga.
Penyemprotan yang dilakukan pada Senin itu menjadi awal dari rencana penanaman kacang. Selanjutnya, warga berharap dapat memperoleh hasil panen yang membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Namun, keberhasilan upaya tersebut masih bergantung pada kondisi lahan dan ancaman banjir yang dapat kembali terjadi.
Sembilan bulan setelah banjir besar, warga Tanjong Meuleuweuk masih berhadapan dengan persoalan pemulihan lahan pertanian.
Mereka tidak hanya membutuhkan tanah yang dapat ditanami, tetapi juga kepastian bahwa usaha yang dilakukan tidak kembali rusak akibat bencana.
Pertanyaan mengenai pemulihan lahan dan perlindungan masyarakat dari ancaman banjir pun menjadi perhatian penting dalam keberlanjutan kehidupan warga.
Di atas tanah yang masih menyimpan jejak bencana, warga kembali menanam harapan. Bukan semata-mata untuk menghasilkan kacang, melainkan untuk menjaga agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi dan kehidupan dapat terus berjalan.***



