BERITA TERKINI

Petani Langkahan Terjepit: Harga Gabah Turun ke Rp7.000/Kg, Biaya Produksi Tetap Tinggi

Petani Langkahan Terjepit: Harga Gabah Turun ke Rp7.000/Kg, Biaya Produksi Tetap Tinggi

ACEH UTARA | PASESATU.COM
— Harga gabah di tingkat petani di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, dilaporkan turun hingga sekitar Rp7.000 per kilogram. Penurunan dari sebelumnya sekitar Rp7.700 per kilogram itu membuat petani khawatir hasil panen tidak mampu menutup tingginya biaya produksi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian petani karena musim panen semestinya menjadi momentum untuk memperoleh pendapatan setelah berbulan-bulan mengeluarkan biaya untuk menggarap sawah. Terlebih, sebagian masyarakat di wilayah tersebut masih berupaya memulihkan kondisi ekonomi setelah terdampak banjir pada akhir 2025.

Petani Langkahan berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menjaga agar harga gabah di tingkat petani tetap memberikan nilai ekonomi yang layak serta memastikan hasil panen dapat terserap dengan harga yang wajar.

“Kami berharap panen kali ini bisa membantu memulihkan ekonomi keluarga setelah terdampak banjir tahun lalu. Namun, kenyataannya harga gabah terus turun dan sangat mengkhawatirkan,” ujar Munawir, petani di Kecamatan Langkahan, Minggu (27/9/2026).

Menurut Munawir, harga gabah yang sebelumnya berada di kisaran Rp7.700 per kilogram kini turun menjadi sekitar Rp7.100 hingga Rp7.000 per kilogram.

Penurunan harga tersebut dinilai semakin berat bagi petani karena biaya produksi tetap harus dikeluarkan, mulai dari pembelian pupuk, obat-obatan, pengolahan lahan, tenaga kerja hingga biaya panen.

Petani juga mengkhawatirkan posisi tawar mereka ketika hasil panen mulai dijual. Mereka berharap pemerintah memastikan mekanisme perdagangan gabah berjalan secara wajar sehingga petani tidak berada dalam posisi yang terlalu lemah dalam menentukan harga jual.

“Kami berharap harga gabah tidak dipermainkan oleh pihak-pihak yang memiliki posisi lebih kuat dalam menentukan harga. Petani yang menanam dan menanggung risiko, tetapi ketika panen tiba jangan sampai kami tidak memiliki kekuatan untuk menentukan harga,” ujar Munawir.

Karena itu, petani meminta Pemerintah Kabupaten Aceh Utara melalui dinas terkait segera berkoordinasi dengan Pemerintah Aceh, pemerintah pusat, Bulog, serta pihak terkait lainnya untuk mencari langkah konkret dalam menjaga stabilitas harga gabah di tingkat petani.

Menurut petani, persoalan harga hasil panen tidak hanya berkaitan dengan pendapatan dalam satu musim. Jika harga gabah terus menurun sementara biaya produksi tetap tinggi, pendapatan petani dapat semakin tertekan dan berpotensi memengaruhi minat masyarakat untuk terus menggarap sawah.

Petani berharap pemerintah tidak hanya hadir ketika mereka membutuhkan bantuan, tetapi juga memberikan perlindungan terhadap hasil produksi ketika musim panen tiba.

Mereka tidak menuntut harga yang berlebihan. Petani hanya berharap hasil kerja selama berbulan-bulan dapat memberikan pendapatan yang sepadan dengan biaya dan risiko yang telah mereka tanggung.

Bagi petani Langkahan, persoalan harga gabah pada musim panen kali ini bukan sekadar angka. Di balik setiap kilogram gabah terdapat biaya produksi, tenaga, waktu, serta harapan untuk memperbaiki kehidupan keluarga.***

Editor: Syahrul