Di Balik Sepiring MBG, Ada Keluarga yang Menggantungkan Hidup
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Sepiring makanan mungkin terlihat sederhana ketika diterima seorang anak sekolah. Namun, di balik makanan bergizi yang tersaji dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), ada banyak tangan yang bekerja, waktu yang dikorbankan, serta keluarga yang menggantungkan sebagian penghidupannya dari aktivitas di dapur.
Hal itu dirasakan para pekerja dan relawan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Saudagar Rakyat Aceh di Desa Tanjong Ara, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara.
Bagi mereka, dapur MBG bukan sekadar tempat menyiapkan makanan untuk anak-anak sekolah. Dapur itu juga menjadi tempat bekerja dan salah satu sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Setiap aktivitas di dalamnya memiliki arti. Dari menyiapkan bahan makanan, memasak, mengemas, hingga memastikan makanan siap didistribusikan kepada penerima manfaat, semuanya melibatkan tenaga manusia.
Murhaban, salah seorang relawan SPPG Yayasan Saudagar Rakyat Aceh, mengatakan keberadaan dapur MBG memiliki arti penting bagi para pekerja yang selama ini terlibat dalam operasionalnya.
Menurutnya, pekerjaan tersebut bukan semata-mata aktivitas sosial, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pekerja memenuhi kebutuhan keluarga.
“Bagi kami, ini bukan hanya pekerjaan. Dari sini kami memenuhi kebutuhan keluarga,” kata Murhaban, Minggu (13/9/2026).
Karena itu, munculnya kabar mengenai kemungkinan terhentinya operasional dapur MBG menimbulkan kekhawatiran di kalangan pekerja.
Kekhawatiran itu bukan hanya mengenai berhentinya aktivitas di dapur. Lebih jauh, mereka memikirkan kemungkinan kehilangan salah satu sumber penghasilan keluarga.
Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi sederhana, kehilangan pekerjaan dapat berdampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari.
Ada kebutuhan anak yang harus dipenuhi, biaya sekolah yang harus disiapkan, beras yang harus dibeli, tagihan listrik yang harus dibayar, serta kebutuhan rumah tangga lainnya yang terus berjalan.
Ketika penghasilan berhenti, kebutuhan tersebut tentu tidak ikut berhenti.
Bukan Sekadar Dapur
Keberadaan SPPG juga menciptakan aktivitas ekonomi yang melibatkan berbagai pihak.
Selain pekerja dapur, terdapat kebutuhan terhadap bahan pangan, pengadaan, distribusi, hingga aktivitas pendukung lainnya. Rantai kegiatan tersebut membuat program MBG tidak hanya berkaitan dengan makanan yang diterima anak sekolah, tetapi juga dengan masyarakat yang berada di belakang proses penyediaannya.
Karena itu, bagi pekerja SPPG, keberlanjutan program memiliki arti tersendiri.
Mereka berharap pemerintah dan pihak terkait dapat mencari solusi terbaik jika terdapat perubahan terhadap mekanisme pelaksanaan MBG. Harapannya, program pemenuhan gizi anak sekolah tetap berjalan dengan baik dan nasib para pekerja yang selama ini terlibat juga mendapat perhatian.
Bagi mereka, keberlanjutan sebuah program bukan hanya soal berapa banyak porsi makanan yang dapat dibagikan.
Ada manusia yang bekerja di balik setiap porsi tersebut.
Ada keluarga yang ikut menggantungkan kehidupan dari pekerjaan itu.
Ketika Tungku Tetap Menyala
Sebuah dapur yang berhenti beroperasi mungkin terlihat sederhana dari luar. Pintu tertutup, kompor tidak menyala, dan aktivitas memasak terhenti.
Namun, bagi keluarga pekerja, dampaknya bisa jauh lebih besar.
Di rumah, seorang ibu mungkin harus kembali menghitung uang belanja. Seorang ayah mungkin mulai memikirkan dari mana biaya sekolah anak akan dipenuhi. Sementara pekerja lainnya harus mencari alternatif pekerjaan di tengah kesempatan kerja yang belum tentu tersedia.
Karena itu, para pekerja berharap setiap kebijakan terkait pelaksanaan MBG mempertimbangkan berbagai pihak yang selama ini ikut menjalankan program tersebut.
Mereka tidak sedang berbicara tentang kemewahan.
Mereka hanya ingin tetap bekerja, memperoleh penghasilan yang halal, serta mampu memenuhi kebutuhan keluarga.
Di balik satu porsi MBG, ada anak yang berharap kenyang agar dapat mengikuti pelajaran dengan baik.
Di balik dapurnya, ada pekerja yang berharap tetap memiliki pekerjaan.
Dan di balik pekerja itu, ada keluarga yang berharap dapur di rumah mereka juga tetap mengepul.
Sebab ketika api di dapur MBG menyala, yang sedang dipertahankan bukan hanya proses memasak.
Ada pekerjaan yang dipertahankan.
Ada penghasilan yang dijaga.
Ada keluarga yang sedang berjuang.
Dan ada kehidupan yang terus berjalan, sepiring demi sepiring.**
Editor: Syahrul



