BERITA TERKINI

Cabai Merah Naik hingga Rp60 Ribu per Kilogram di Aceh Utara

Cabai Merah Melonjak, Dapur Warga Panton Labu Kembali Tertekan

ACEH UTARA | PASESATU.COM
— Pasar Kota Panton Labu kembali merekam naik-turunnya denyut ekonomi masyarakat. Di tengah sejumlah komoditas yang mulai turun, harga cabai merah justru melesat hingga Rp50.000 per kilogram, naik sekitar Rp15.000 dibanding harga sebelumnya Rp35.000.

Pantauan Media, Sabtu (12/9/2026), menunjukkan harga bahan pangan di Pasar Panton Labu bergerak tidak seragam. Ada yang turun, ada pula yang naik, membuat masyarakat harus kembali cermat mengatur belanja kebutuhan dapur.

Cabai merah menjadi komoditas yang paling mencolok. Harganya kini Rp50.000 per kilogram, sementara cabai rawit justru turun menjadi Rp50.000 dari sebelumnya Rp65.000 hingga Rp70.000 per kilogram.

Penurunan juga terjadi pada sejumlah kebutuhan lainnya. Asam sunti berada di harga Rp16.000 per kilogram dari sebelumnya Rp18.000. Minyakita kemasan 1 liter turun menjadi Rp18.000 dari Rp20.000. Sere turun dari Rp15.000 menjadi Rp13.000 per kilogram, sedangkan timun sayur turun dari Rp10.000 menjadi Rp7.000 per kilogram.

Namun tidak semua harga bergerak turun. Gula pasir naik menjadi Rp20.000 per kilogram dari sebelumnya Rp19.000.

Untuk kebutuhan lauk-pauk, ayam potong dipasarkan sekitar Rp33.000 hingga Rp35.000 per kilogram. Telur ayam Rp32.000, turun dari sebelumnya Rp35.000. Sementara daging sapi lokal masih bertahan pada angka Rp170.000 per kilogram.

Pedagang sayur, Lukman, mengatakan pasokan berbagai jenis sayuran di pasar Panton Labu sebagian besar berasal dari Medan, Sumatera Utara. Berbeda dengan asam sunti yang merupakan produk lokal.

“Semua jenis sayuran di sini dipasok dari Medan (Sumut), kecuali asam sunti, ini produk lokal,” tutur Lukman.


Pergerakan harga pangan juga beriringan dengan perubahan aktivitas belanja masyarakat. Pedagang ayam potong mulai merasakan penurunan pembeli setelah sejumlah desa menyelesaikan kenduri Maulid.
Jefry, pedagang ayam di Pasar Panton Labu, mengatakan permintaan ayam potong tidak lagi seramai sebelumnya.

“Pembeli ayam potong sekarang sudah mulai berkurang. Banyak warga di desa-desa sudah melaksanakan kenduri Maulid,” ungkap Jefry.

Sementara itu, ayam kampung justru menghadapi persoalan berbeda. Pasca-banjir besar, pasokan ayam kampung disebut semakin sulit ditemukan.

“Kalau ayam kampung pasca banjir besar susah dicari,” katanya.

Harga Turun, Belum Tentu Beban Ringan
Naik-turunnya harga di pasar menjadi gambaran bahwa tekanan ekonomi rumah tangga tidak selalu terlihat dari satu komoditas saja.

Ketika cabai merah melonjak Rp15.000 per kilogram, sebagian komoditas lain memang mengalami penurunan. Namun bagi keluarga yang harus membeli berbagai kebutuhan sekaligus, perubahan kecil pada setiap barang tetap dapat memengaruhi total pengeluaran harian.

Di lapak-lapak Pasar Panton Labu, angka-angka itu bukan sekadar catatan harga. Bagi pedagang, harga menentukan perputaran dagangan. Bagi pembeli, harga menentukan isi kantong dan isi dapur.

Pasar bergerak setiap hari. Tetapi kemampuan masyarakat untuk mengikutinya tidak selalu bergerak secepat harga.***

Editor : Syahrul