BERITA TERKINI

“Souvenir” Kayu dari Hulu yang Terluka

Penulis : Redaksi| Editor : Syahrul
Dua anak terlihat sedang bermain diatas tumpukan kayu gelondongan berukuran besar di Kabupaten Aceh Utara. Foto : Abdul Rafar

ACEH | PASESATU.COM - Sebuah foto yang memperlihatkan dua anak bermain di atas tumpukan kayu gelondongan berukuran besar di Kabupaten Aceh Utara sekilas tampak sebagai potret keseharian masyarakat pedesaan. Namun, di balik suasana tersebut tersimpan persoalan lingkungan yang lebih serius.

Kayu-kayu gelondongan itu diduga terbawa arus banjir besar yang melanda wilayah tersebut pada 26 November 2025. Sejumlah warga setempat menyebutkan, material kayu berukuran besar tersebut berasal dari kawasan hulu sungai dan terbawa hingga ke pemukiman saat debit air meningkat tajam.

Peristiwa tersebut menimbulkan kekhawatiran akan kondisi kawasan hutan di bagian hulu. Pasalnya, keberadaan kayu gelondongan dalam jumlah besar kerap dikaitkan dengan aktivitas penebangan pohon, baik legal maupun ilegal, yang berdampak pada berkurangnya daya dukung lingkungan.

Anak-anak dan Dampak Kerusakan Lingkungan

Foto tersebut bukan semata tentang aktivitas anak-anak, melainkan mencerminkan dampak kerusakan lingkungan yang secara tidak langsung diwariskan kepada generasi berikutnya. Anak-anak yang bermain di sekitar sisa-sisa kayu hanyut itu tidak terlibat dalam proses yang menyebabkannya, namun berpotensi menanggung konsekuensi jangka panjang, seperti banjir berulang, longsor, dan berkurangnya kualitas lingkungan hidup.

Menurut sejumlah pemerhati lingkungan, hutan memiliki peran penting dalam mengendalikan aliran air dan mencegah erosi. Ketika tutupan hutan berkurang, risiko banjir dan kerusakan infrastruktur di wilayah hilir meningkat, terutama saat curah hujan tinggi.

Banjir dan Kondisi Hulu Sungai

Banjir kerap disebut sebagai bencana alam. Namun dalam banyak kasus, para ahli menilai banjir juga dipengaruhi oleh aktivitas manusia, termasuk perubahan tata guna lahan dan berkurangnya kawasan resapan air. Material kayu berukuran besar yang terbawa arus banjir sering kali menjadi indikator adanya gangguan di wilayah hulu sungai.

Batang kayu berdiameter besar umumnya tidak mudah hanyut tanpa adanya proses penebangan sebelumnya. Oleh karena itu, keberadaannya di wilayah pemukiman memunculkan pertanyaan mengenai pengawasan dan pengelolaan hutan di kawasan hulu.

Perlunya Pengawasan dan Penegakan Hukum

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari instansi terkait mengenai asal-usul kayu gelondongan tersebut. Masyarakat berharap pemerintah dan aparat penegak hukum dapat melakukan penelusuran untuk memastikan apakah terdapat pelanggaran dalam pengelolaan hutan di wilayah tersebut.

Penguatan pengawasan kawasan hutan serta penegakan hukum terhadap praktik pembalakan ilegal dinilai penting untuk mencegah kerusakan lingkungan yang berkelanjutan. Selain itu, langkah mitigasi di wilayah hulu dan hilir sungai perlu dilakukan secara terpadu guna mengurangi risiko bencana di masa mendatang.

Catatan Redaksi

Foto dua anak yang bermain di atas tumpukan kayu hanyut menjadi pengingat bahwa dampak kerusakan lingkungan tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga akan diwariskan kepada generasi mendatang. Upaya menjaga kelestarian hutan dan lingkungan hidup merupakan tanggung jawab bersama, agar peristiwa serupa tidak terus berulang dan keselamatan masyarakat dapat terjamin.(*)