BERITA TERKINI

Sampah Menggunung di Panton Labu: Bau Busuk, Lansia Mengais Rezeki, dan Wajah Kusam Pelayanan Publik

Penulis : Abdul Rafar | Editor : Syahrul

ACEH UTARA | PASESATU.COM  – Di sudut Kota Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, tumpukan sampah tak sekadar memancarkan bau menyengat. Ia menyebarkan pesan yang lebih busuk: abainya negara pada ruang hidup warga dan rapuhnya pelayanan publik yang seharusnya hadir paling dekat dengan rakyat.

Sejak Minggu pagi hingga malam (18/1/2026), limbah rumah tangga dan sampah pasar dibiarkan menggunung di pinggir jalan utama kota. Bukan sehari dua hari, menurut warga, melainkan telah berlangsung berhari-hari tanpa pengangkutan. Sampah meluber ke badan jalan, seolah sengaja dipamerkan sebagai monumen kelalaian.

Ironisnya, lokasi ini bukan gang terpencil, melainkan wajah kota. Jalur yang dilalui masyarakat setiap hari, namun justru disuguhi aroma busuk dan pemandangan kumuh. “Kalau pejabat lewat, apa mereka tutup hidung atau tutup mata?” sindir seorang warga dengan nada getir.

Di tengah sorotan terhadap mandeknya kinerja kebersihan kota, kamera menangkap pemandangan yang lebih memukul nurani. Seorang ibu lanjut usia tampak mengais tumpukan sampah pada malam hari.

Dengan penerangan seadanya, tangan keriputnya memilah botol plastik dan kardus barang sisa yang ditolak kota, namun menjadi sandaran hidup baginya.
Ia tak memakai sarung tangan. Tak masker. Tak perlindungan apa pun. Bau busuk dan risiko penyakit seolah lebih kecil dibanding ancaman lapar.

Pemandangan ini adalah potret telanjang realitas sosial: ketika negara gagal mengelola sampah, dan lebih jauh lagi, gagal memastikan warganya tidak harus mengais sisa-sisa untuk bertahan hidup.

Di mana dinas kebersihan? Di mana pengawasan? Di mana perencanaan tata kota yang kerap dipidatokan dalam rapat-rapat ber-AC?

Tumpukan sampah ini bukan sekadar soal estetika kota. Ia adalah alarm kesehatan masyarakat, sumber penyakit, sekaligus cermin ketimpangan sosial yang dibiarkan tumbuh subur. Saat hujan turun dan musim tak menentu, siapa yang akan bertanggung jawab jika wabah datang?

Warga Panton Labu kini tidak meminta yang muluk. Mereka hanya berharap sampah diangkut, kota dirawat, dan pelayanan publik bekerja sebagaimana mestinya. Sebab, kota yang membiarkan sampah menumpuk dan lansia mengais rezeki di atasnya, sesungguhnya sedang menumpuk utang moral kepada rakyatnya sendiri.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bau busuk yang tercium bukan lagi berasal dari sampah melainkan dari kegagalan kebijakan dan kepekaan sosial para pemangku kepentingan.(*)