BERITA TERKINI

Pascabencana Hidrometeorologi, 670 Sekolah di Aceh Utara Terdampak, Pembelajaran Ditargetkan Dimulai 5 Januari

Penulis : Abdul Rafar | Editor : Syahrul


ACEH UTARA | PASESATU.COM
— Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara terus mengupayakan pemulihan aktivitas pendidikan pascabencana hidrometeorologi yang melanda Aceh Utara pada 26 November 2025 lalu. Bencana tersebut menyebabkan 670 sekolah dari berbagai jenjang pendidikan terdampak banjir dan lumpur.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara, Jamaluddin, mengatakan hal itu saat meninjau kondisi SD Negeri 6 Tanah Jambo Aye di Desa Samakurok, Kecamatan Tanah Jambo Aye yang didampingi oleh Kabid Sarana Herman dan Kepala Sekolah SD Negeri 6 Tanah Jambo Aye, Kamis (1/1/2026).

“SD Negeri 6 Tanah Jambo Aye merupakan sekolah inti. Hari ini kita melihat langsung kondisi sekolah pascabanjir. Alhamdulillah, ruang kelas sudah dibersihkan oleh para guru dan tenaga kependidikan,” ujar Jamaluddin.


Meski demikian, ia mengakui masih terdapat kendala serius pada bagian halaman dan pekarangan sekolah yang dipenuhi lumpur tebal. Menurutnya, pembersihan area tersebut tidak memungkinkan dilakukan secara manual tanpa dukungan alat berat.

“Kami memohon kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan, BPMD Aceh, serta Bupati Aceh Utara agar dapat membantu penyediaan alat berat seperti loader berban karet. Alat ini sangat dibutuhkan untuk mempercepat pembersihan lumpur,” katanya.

Jamaluddin menargetkan proses belajar-mengajar dapat kembali dimulai pada 5 Januari 2026, sesuai edaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tentang dimulainya semester genap tahun ajaran 2025/2026.

“Pada 5 Januari nanti, sekolah-sekolah yang sudah siap akan kembali melaksanakan pembelajaran. Dari 670 sekolah terdampak di Aceh Utara, hingga kini progres pembersihan baru mencapai sekitar 40 persen, dan itu pun masih terbatas pada ruang kelas,” jelasnya.

Sebagai solusi sementara, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara telah mengusulkan 99 unit tenda belajar kepada pemerintah pusat untuk mendukung proses pembelajaran darurat. Hingga saat ini, baru enam tenda yang telah diterima dan dipasang di beberapa lokasi sekolah terdampak.

“Sebanyak 93 tenda lainnya masih dalam proses pengiriman. Kami berharap dalam waktu dekat seluruh kebutuhan tersebut dapat terpenuhi agar anak-anak bisa kembali belajar, meskipun dalam kondisi darurat,” ujarnya.

Selain tenda belajar, pemerintah daerah juga mengajukan bantuan 73.123 paket perlengkapan sekolah (school kit). Dari jumlah tersebut, 900 paket telah dikirim dan mulai disalurkan kepada siswa.

“Kami memahami saat banjir terjadi, hampir seluruh perlengkapan sekolah, termasuk seragam siswa dan guru, rusak atau hanyut. Oleh karena itu, untuk sementara siswa dan guru diperbolehkan mengenakan pakaian apa adanya,” kata Jamaluddin.

Dalam upaya pembersihan sekolah, Dinas Pendidikan Aceh Utara juga melibatkan relawan sesuai arahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Relawan tersebut akan membantu pembersihan sarana pendidikan, fasilitas umum, dan fasilitas sosial yang terdampak.

“Wilayah Aceh Utara sangat luas, dari Sawang hingga Langkahan. Dengan keterbatasan personel dan alat, progres pembersihan memang belum maksimal. Namun kami terus berupaya agar hak pendidikan anak-anak tetap terpenuhi,” pungkasnya.(*)