Di Antara Tenda, Huntara, dan Janji Negara
![]() |
| Pembangunan 180 unit Hunian Sementara oleh Danantara di Desa Tanjong Dalam Kecamatan Langkahan Kabupaten Aceh Utara sudah memasuki 99 persen Kamis (22/01/2026). Foto : Syahrul |
Potret Pemulihan Pascabanjir Langkahan, Aceh Utara
ACEH UTARA | PASESATU.COM – Hampir dua bulan pascabanjir besar yang melanda Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, proses pemulihan masih berjalan bertahap. Di tengah upaya pemerintah pusat dan daerah membangun hunian sementara serta memulihkan infrastruktur, warga masih bertahan di tenda-tenda pengungsian, menunggu kepastian hunian jangka panjang.
Banjir yang terjadi pada akhir 2025 itu merusak ratusan rumah warga, memutus akses jalan, serta menghantam lahan pertanian dan sumber penghidupan masyarakat. Hingga kini, dampak sosial dan ekonomi bencana tersebut masih dirasakan oleh para penyintas.
Kunjungan Pemerintah Pusat
Kamis (22/1/2026), Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian meninjau langsung kondisi warga terdampak di Gampong Rumoh Rayeuk, salah satu wilayah dengan tingkat kerusakan terparah. Kunjungan tersebut didampingi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI (Purn.) Suharyanto, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, serta Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil.
Dalam peninjauan itu, Mendagri menyatakan kerusakan akibat banjir di Langkahan tergolong berat. Selain merobohkan rumah warga, arus banjir juga membawa material kayu besar dari kawasan pegunungan, memperparah kerusakan permukiman. Luapan saluran irigasi turut menjadi faktor yang memperluas genangan air.
“Masih banyak warga yang tinggal di tenda pengungsian. Namun, alhamdulillah pemerintah pusat bersama Kementerian PUPR, Waskita Karya, dan Danantara yang segera membangunkan hunian sementara (huntara) di Rumoeh Rayek,” ujar Tito.
Menurutnya, saat ini telah dibangun sebanyak 168 unit hunian sementara di dua lokasi, belum lagi yang di buatkan oleh BNPB. Semuanya 4000. " Mudah - mudahan ini nanti akan bisa membantu, terutama yang tinggal -tinggal di tenda ini, dia bisa masuk kedalam huntara," Sebut Tito.
Skema Bantuan dan Tantangan Implementasi
Selain itu, bantuan logistik dan tenda darurat masih disalurkan bagi warga yang belum dapat menempati huntara. Selama masa transisi, pemerintah juga menanggung kebutuhan konsumsi warga sebanyak tiga kali sehari.
Untuk pemulihan jangka panjang, pemerintah menyiapkan pembangunan hunian tetap bagi warga yang rumahnya rusak berat atau hilang total. Skema bantuan dana stimulan juga disiapkan berdasarkan tingkat kerusakan, yakni Rp15 juta untuk rumah rusak ringan, Rp30 juta rusak sedang, dan Rp60 juta untuk rusak berat.
Namun di lapangan, sebagian warga menilai proses pemulihan masih membutuhkan waktu dan kepastian. Wani Safrianti, warga Gampong Rumoh Rayeuk, mengaku telah dua bulan tinggal di tenda pengungsian bersama keluarganya.
“Anak-anak sehat, tetapi tinggal di tenda sangat tidak nyaman. Siang hari panas, malam dingin. Rumah kami sudah habis terbawa banjir,” ujarnya.
Ia menceritakan, banjir datang dengan arus deras dan membawa kayu-kayu besar yang menghantam rumah warga. Dalam waktu singkat, rumah yang dibangun bertahun-tahun hilang tanpa tersisa.
“Kami berharap bisa segera memiliki rumah lagi,” kata Wani.
Huntara sebagai Fase Transisi
![]() |
| Terlihat anak - anak Desa Tanjong Dalam sedang bermain di wahana bermain yabg berada di lingkungan hunian Sementara yang dibangun Danantara, Kamis (22/01/2026). Foto: Abdul Rafar. |
Harapan sebagian warga mulai tumbuh seiring hampir rampungnya pembangunan hunian sementara di Desa Tanjong Dalam dan Desa Simpang Tiga. Total 216 unit huntara dibangun, masing-masing 180 unit di Tanjong Dalam dan 36 unit di Simpang Tiga.
Site Operational Manager proyek, Indrawan Sati Hutagalung, menyampaikan bahwa progres pembangunan di Desa Tanjong Dalam telah mencapai 99 persen.
“Saat ini tinggal perbaikan minor sebelum serah terima kepada pemerintah daerah,” ujarnya.
Hunian sementara tersebut dibangun dalam waktu sekitar dua pekan dan dilengkapi fasilitas dasar, seperti perabotan, listrik, kipas angin, serta akses air bersih dari sumur bor. Fasilitas pendukung berupa mushala, dapur umum, toilet, taman bermain anak, dan jaringan internet juga disediakan.
Bagi warga, huntara menjadi tempat pemulihan sementara sekaligus ruang untuk memulihkan kondisi psikologis keluarga, terutama anak-anak. Aktivitas bermain di taman sederhana menjadi pemandangan yang mulai kembali terlihat.
Infrastruktur dan Keluhan Lingkungan
![]() |
| Para pekerja terlihat sibuk melakukan pemasangan batu bronjong di jalan yang longsor akibat banjir bandang pada akhir 2025 lalu di Kecamatan Langkahan. Foto : Abdul Rafar. |
Selain persoalan hunian, warga juga mengeluhkan kondisi jalan utama di Kecamatan Langkahan yang berdebu saat cuaca panas. Debu dari lalu lintas kendaraan dinilai mengganggu aktivitas warga dan berpotensi berdampak pada kesehatan.
Di sisi lain, perbaikan akses jalan yang sebelumnya terputus akibat longsor mulai dilakukan. Pemerintah melakukan pemasangan bronjong dan perataan badan jalan untuk mencegah longsor susulan. Jalan tersebut merupakan jalur vital bagi distribusi logistik, aktivitas ekonomi, serta akses pendidikan dan layanan kesehatan.
Menanti Kepastian Pemulihan
Pemerintah menegaskan, seluruh proses bantuan dan pembangunan bergantung pada ketepatan data yang disampaikan pemerintah daerah. Mendagri Tito Karnavian mengingatkan pentingnya pendataan yang akurat dan transparan agar penyaluran bantuan tepat sasaran.
Bagi warga, pemulihan pascabencana bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga pemulihan rasa aman dan kepastian hidup. Selama hunian permanen belum terwujud, tenda dan hunian sementara masih menjadi bagian dari keseharian mereka.
Di Langkahan, proses bangkit dari bencana masih terus berjalan di antara keterbatasan di lapangan dan harapan akan janji pemulihan yang diupayakan negara.(*)





