BERITA TERKINI

Bantuan Tenda Jadi Penopang Utama Sekolah Pascabencana di Aceh Utara

Penulis : Abdul Rafar | Editor : Syahrul


ACEH UTARA | PASESATU.COM
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan terus mempercepat pembersihan sekolah-sekolah yang terdampak bencana hidrometeorologi pada 26 November 2025 lalu. Hingga awal Januari 2026, proses pembersihan telah dilakukan pada sekitar 40 persen dari total 670 sekolah yang terdampak banjir dan lumpur.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara, Jamaluddin, menyampaikan hal tersebut saat meninjau langsung kegiatan pembersihan di SD Negeri 6 Tanah Jambo Aye, Desa Samakurok, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Rabu (1/1/2026).

“Sejak banjir surut, guru dan tenaga kependidikan telah bergerak membersihkan ruang kelas agar bisa segera digunakan kembali. Untuk ruang kelas di SD Negeri 6 Tanah Jambo Aye, seluruhnya sudah dibersihkan,” ujar Jamaluddin.

Meski pembersihan ruang kelas telah rampung, Jamaluddin mengungkapkan bahwa lumpur tebal di halaman dan pekarangan sekolah masih menjadi kendala utama. Menurutnya, kondisi tersebut sulit ditangani secara manual tanpa bantuan alat berat.

“Ketebalan lumpur di pekarangan sekolah cukup parah. Tanpa alat berat seperti loader berban karet, pembersihan tidak akan maksimal dan membutuhkan waktu lama,” katanya.


Dalam rangka mempercepat proses pembersihan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara telah mengajukan permohonan bantuan alat berat kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan serta berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara.

Pembersihan sekolah dilakukan secara bertahap dengan melibatkan guru, tenaga kependidikan, serta relawan. Langkah ini dilakukan sesuai arahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang mendorong pelibatan relawan dalam pemulihan fasilitas pendidikan pascabencana.

“Wilayah Aceh Utara sangat luas, dari Sawang hingga Langkahan. Dengan keterbatasan tenaga dan peralatan, hingga saat ini pembersihan baru mencapai 40 persen. Namun upaya ini terus kami kebut,” jelas Jamaluddin.

Ia menegaskan, percepatan pembersihan menjadi prioritas utama agar kegiatan belajar-mengajar dapat kembali dilaksanakan pada 5 Januari 2026, sesuai edaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terkait dimulainya semester genap.

Dalam kondisi sekolah yang belum sepenuhnya layak, bantuan tenda belajar menjadi solusi paling mendesak untuk memastikan proses pendidikan tetap berjalan.

Sebagai solusi sementara bagi sekolah yang belum sepenuhnya bersih, pemerintah menyiapkan pembelajaran darurat menggunakan tenda. Dari kebutuhan 99 unit tenda belajar, hingga kini enam tenda telah diterima dan dipasang di beberapa sekolah terdampak.

Selain itu, pemerintah juga mulai menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah kepada siswa yang terdampak banjir. Dari total kebutuhan 73.123 paket school kit, sebanyak 900 paket telah diterima dan didistribusikan.

“Yang terpenting saat ini adalah memastikan sekolah bisa dibersihkan dan digunakan kembali. Anak-anak harus segera kembali belajar meskipun dalam kondisi sederhana,” pungkas Jamaluddin.(*)