BERITA TERKINI

90 Persen Rumah Warga Rumoeh Rayek Rusak, Ratusan KK Bertahan di Pengungsian

Penulis :  Syahrul | Editor : Tim Pasesatu

ACEH UTARA | PASESATU.COM — Banjir yang melanda Desa Rumoeh Rayek, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, meninggalkan dampak kerusakan yang sangat parah. Sekitar 90 persen rumah warga dilaporkan rusak berat bahkan hilang terseret arus, memaksa ratusan kepala keluarga bertahan di pengungsian hingga kini.

Meski kondisi pengungsian relatif terkendali dan belum ditemukan persoalan darurat berskala besar, warga masih menghadapi berbagai masalah mendasar, terutama ketiadaan hunian, sanitasi, serta kebutuhan air bersih dan pemulihan ekonomi.

Salah seorang warga Desa Rumoeh Rayek, Balisyah, Rabu (07/01/2026), mengatakan bahwa pengungsi sejauh ini masih dapat bertahan dengan bantuan yang ada. Namun, kondisi kehilangan tempat tinggal menjadi persoalan utama yang paling dirasakan warga.

“Untuk sementara belum ada persoalan besar. Paling hanya warga yang demam dan ada juga yang mengalami gatal-gatal,” ujar Balisyah saat ditemui di lokasi pengungsian.

Ia menyebutkan, kebutuhan mendesak warga saat ini adalah bahan pangan pokok dan air bersih. Bantuan yang masuk dinilai masih mencukupi kebutuhan dasar pengungsi dalam jangka pendek.

“Yang paling dibutuhkan itu beras. Selain itu minyak, telur, dan air bersih,” katanya.

Menurutnya, stok logistik yang tersedia diperkirakan masih cukup untuk memenuhi kebutuhan warga hingga sekitar satu bulan ke depan. Namun, ia mengaku khawatir jika masa pengungsian berlangsung lebih lama sementara bantuan mulai berkurang.


“Untuk sekarang Alhamdulillah masih cukup. Kalau ke depan, kita belum tahu,” tambahnya.

Selain kehilangan rumah, warga juga dihadapkan pada persoalan sanitasi yang memprihatinkan. Hingga kini, fasilitas toilet umum belum tersedia di lokasi pengungsian. Banyak jamban milik warga rusak atau hanyut akibat banjir, sehingga menyulitkan pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari.

“Untuk WC belum ada. Di sini belum tersedia, dan di rumah-rumah warga juga banyak yang sudah rusak atau habis terbawa arus,” jelas Balisyah.

Ia berharap pemerintah segera memberikan perhatian serius terhadap pemulihan pascabanjir, terutama pembangunan kembali rumah warga yang hampir seluruhnya rusak, serta pemulihan ekonomi masyarakat.

“Yang paling utama itu rumah. Setelah itu ekonomi. Banyak kebun warga yang tidak bisa dipanen, tidak bisa dimanfaatkan,” ungkapnya.

Musibah banjir ini juga menelan korban jiwa. Dua orang dilaporkan meninggal dunia akibat terseret arus, yakni seorang anak dan ibunya. Selain itu, seorang warga lanjut usia meninggal dunia di tenda pengungsian akibat kondisi kesehatan.

Desa Rumoeh Rayek menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah. Warga terpaksa mengungsi di enam titik berbeda. Sekitar 160 kepala keluarga berada di lokasi pengungsian Paket 16, sementara total warga terdampak hampir mencapai 600 kepala keluarga.

Dengan kerusakan sekitar 90 persen rumah warga, masyarakat berharap penanganan dan pemulihan dapat segera dilakukan agar mereka dapat kembali memiliki tempat tinggal yang layak dan menjalani kehidupan secara normal dan aman. (*)