BERITA TERKINI

18 Hektare Sawah di Gampong Bintah Aceh Timur Kekeringan Akibat Irigasi Rusak Pascabanjir

Penulis : Abdul Rafar | Editor : Syahrul
Ketua Kelompok Tani Beuringin Jaya, Aiyub sedangkan melihat hamparan sawah yang baru aaja usai ditanam mulai mengalami kekeringan, Selasa (27/01/2026). Foto : Syahrul. 

ACEH TIMUR | PASESATU.COM Sebanyak 18 hektare areal persawahan di Gampong Bintah, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, mengalami kekeringan pada musim tanam akibat rusaknya jaringan irigasi Bendungan Langkahan sayap kanan yang tertimbun lumpur pascabanjir besar. Kondisi ini menyebabkan pasokan air ke lahan pertanian terhenti, sehingga petani baru mampu menanam padi di sebagian kecil lahan.

Ketua Kelompok Tani Beuringin Jaya, Aiyub, mengatakan seluruh kebutuhan air sawah petani sebelumnya bergantung pada aliran irigasi Bendungan Langkahan sayap kanan. Namun, setelah banjir besar melanda wilayah tersebut, saluran irigasi mengalami kerusakan berat dan tidak lagi berfungsi.



“Dulu air sawah kami bersumber dari Bendungan Langkahan sayap kanan. Setelah banjir besar, irigasi rusak parah dan tertimbun lumpur, sehingga air tidak bisa lagi dialirkan ke sawah,” ujar Aiyub, Selasa (27/1/2026).

Menurut Aiyub, para petani saat ini tetap berupaya melakukan penanaman padi meski dengan keterbatasan air. Dari total 18 hektare sawah, baru sebagian kecil yang bisa ditanami, sementara lahan lainnya terpaksa dibiarkan belum digarap.

“Padi sudah ditanam, tapi baru sebagian. Banyak sawah yang terpaksa dibiarkan karena tidak ada pasokan air,” katanya.

Menanggapi kondisi tersebut, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Timur dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Mahmuddin, menyatakan keprihatinannya dan mengambil langkah darurat dengan membantu petani melalui pompanisasi air menggunakan alat milik pribadi.

“Sebagai langkah sementara, saya menyalurkan pompa air milik pribadi agar petani tetap bisa mengairi sawah, khususnya untuk tanaman padi yang sudah ditanam,” kata Mahmuddin.

Namun demikian, Mahmuddin menegaskan bahwa pompanisasi hanya bersifat sementara dan tidak dapat dijadikan solusi jangka panjang. Ia meminta pemerintah daerah segera melakukan perbaikan dan normalisasi jaringan irigasi yang rusak agar pasokan air kembali normal.

“Pompanisasi ini hanya solusi darurat. Pemerintah daerah perlu segera memperbaiki dan menormalisasi irigasi agar air dari Bendungan Langkahan bisa kembali mengalir ke sawah,” ujarnya.

Para petani di Gampong Bintah berharap adanya penanganan cepat dari pemerintah daerah sehingga jaringan irigasi dapat kembali berfungsi dan seluruh lahan persawahan seluas 18 hektare dapat ditanami secara optimal, guna menjaga keberlangsungan produksi pertanian setempat.(*)