BERITA TERKINI

Update Banjir : Akses Jalan Langkahan Terputus, 2 Rumah Komplek Dayah Darul Aman Terbawa Air, 78 Warga Dilaporkan Meninggal


ACEH UTARA | PASESATU.COM
- Akibat hujan deras yang terus menguyur Aceh Utara dalam sepekan terahir mengakibatkan jebolnya tanggul sungai dibeberaoa titik. Pemkab Aceh Utara melaporkan perkembangan penanganan banjir besar yang melanda wilayah ini sejak 22 hingga 30 November 2025.

Pantauan dilokasi pada Minggu sore (30/11) akses jalan tang terputus mencapai 40 meter di Desa Alue Krak Kaye Kecamatan Langkahan, terlihat ratusan rumah warga ambruk diterjang banjir, puluhan kenderaan roda dua dan empat tertimbun lumpur. 

Dampak banjir parah juga melanda Dayah Darul Aman Desa Tanjong Dalam, dua balai pengajian hilang terbawa arus air, dua rumah milik guru ngaji juga mengalami nasib yang sama, pagar dayah turut ambruk. 

Pimpinan Dayah Darul Aman Abi Hamidi saat di temui mengatakan tidak ada korban jiwa dalam musibah banjir tersebut namun kerugian diperkirakan ratusan juta. "Arus air mengalir kencang dari tiga arah, pertama dari arah tanggul irigasi depan dayah, air juga datang dari arah selatan dan meruntuhkan rumah Tgk Fajri dan pagar Dayah juga membawa rumah Tgk Abdul Mukhatab, satu pohon mangga tumbang, saya bersama keluarga terpaksa tidur dilantai dua bilik kamar para santri," kata Abi Hamidi saat ditemui dilokasi. 

"Untuk saat ini, proses belajar mengajar tidak bisa, sebagian santriawan-santriawati sudah dijemput orang tua masing-masing. Ada 120 santriwati disini, saya izinkan pulang kalau dijemput orang tuanya, karena proses belajar mengajar tidak bisa, karena banyak kitab kitab terendam air, tempat tidur para santri, banyak barang barang berharga tak bisa kita terselamatkan, karena air datang begitu cepat, listrik juga padam fotal dan jaringan telekomunikasi masih terputus,"tuturnya.

Sebelumnya, Pemerintah Aceh Utara malalui Juru bicara Muntasir Ramli, pada. Minggu (30/11/2025) pukul 18.00 WIB mencatat sudah 78 orang meninggal dunia dan 51 orang masih hilang akibat bencana besar tersebut.

Menurutnya, banjir meluas kesejumlah kecamatan, dipicu oleh kedangkalan sungai, cuaca ekstrem, serta curah hujan tinggi selama lima hari berturut-turut. Kondisi diperparah akibat jebolnya tanggul sungai di beberapa titik, termasuk di Krueng Pase (Kecamatan Samudera dan Nibong), Krueng Peutou (Lhoksukon) dan meluapnya aliran sungai seperti Krueng Keureuto, Krueng Ajo, Krueng Nisam, Krueng Langkahan, Krueng Jambo Aye, dan Krueng Sawang, seperti yang telah dilansit pasesatu.com

Data sementara yang berhasil dihimpun dari BPBD Aceh Utara, sedikitnya 119.830 warga yang terdampak dengan 32.547 kepala keluarga (KK) yang harus mengungsi, menyebar di 221 titik. Pengungsi prioritas mencakup 71 ibu hamil, 573 balita, 582 lansia, dan 12 penyandang disabilitas.

Banjir mengakibatkan kerusakan luas pada infrastruktur publik serta pemukiman.
Ratusan rumah warga, 66 rusak berat, 67 rusak sedang, 60 rusak ringan. Sawah terendam seluas 12.782 hektare dan tambak 10.653 hektare. 57 titik tanggul rusak dan 27 jembatan mengalami kerusakan. 101 sekolah terdampak.

Pemerintah Aceh Utara juga menyebut bahwa jaringan listrik dan komunikasi masih padam di sebagian besar wilayah, menghambat proses pendataan dan distribusi bantuan. Beberapa kecamatan akses jalan terputus aksesnya, antara lain Langkahan, Seuneddon, Baktiya, Baktiya Barat, Pirak Timu, Lapang, Samudera, Tanah Pasir, dan Sawang. Distribusi logistik dilakukan melalui jalur air untuk mencapai wilayah yang masih terendam.

Sebelumnya Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, telah menetapkan status Tanggap Darurat Penanganan Banjir pada 25 November 2025. Pemerintah fokus pada pemulihan akses, suplai bantuan mendesak, serta normalisasi aliran sungai menggunakan alat berat.

Muntasir Ramli menyatakan bahwa data bersifat sementara dan dapat berubah karena kondisi di lapangan serta padamnya jaringan komunikasi di hampir seluruh wilayah. (*)