BERITA TERKINI

Tanpa Listrik dan Air Bersih, Duka Panjang Desa Lhok Reudep

Penulis : Syahrul | Editor : Tim Pasesatu

ACEH UTARA | PASESATU.COM - Banjir bandang yang melanda Desa Lhok Reudep, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, meninggalkan duka mendalam bagi warga. Dalam hitungan menit, arus deras menyapu permukiman penduduk, menghanyutkan rumah-rumah dan menelan korban jiwa.

Hingga Selasa (6/1/2026), tercatat 16 warga meninggal dunia akibat bencana tersebut. Empat belas korban telah ditemukan dan dimakamkan, sementara dua orang lainnya masih dalam proses pencarian.

Geuchik Desa Lhok Reudep, Mawardi, mengatakan dua korban yang masih hilang berasal dari Dusun Cot Me. Rumah keluarga tersebut terseret arus banjir saat kejadian.


“Dari tujuh orang yang berada di dalam rumah, tiga berhasil menyelamatkan diri. Empat lainnya menjadi korban, dan sampai hari ini dua orang belum ditemukan,” kata Mawardi saat ditemui di lokasi bencana.

Dusun Cot Me menjadi wilayah dengan jumlah korban jiwa terbanyak, yakni 14 orang. Dua korban lainnya berasal dari dusun tengah desa. Mayoritas korban merupakan perempuan, termasuk ibu rumah tangga dan warga lanjut usia.

Menurut Mawardi, kondisi sosial masyarakat turut memengaruhi tingginya angka korban di dusun tersebut. Banyak rumah tangga di Cot Me dipimpin oleh perempuan.

“Ketika air datang dengan sangat deras, ibu-ibu kesulitan menyelamatkan diri, terutama menuju meunasah,” ujarnya.

Beberapa korban diketahui memiliki keterbatasan fisik. Salah satunya seorang perempuan pengguna kursi roda yang tidak sempat dievakuasi karena kuatnya arus banjir.

“Dari seluruh korban meninggal, hanya dua orang laki-laki. Salah satunya bahkan ditemukan di depan rumahnya,” kata Mawardi.

Selain korban jiwa, banjir juga menyebabkan kerusakan parah pada permukiman warga. Sebanyak 18 rumah dilaporkan hilang terseret arus dan tidak dapat ditemukan kembali. Sementara itu, 33 rumah lainnya mengalami kerusakan berat dan tidak lagi layak huni.

“Banyak rumah hilang sama sekali, dan puluhan lainnya rusak parah. Warga tidak bisa kembali ke rumah,” ujarnya.

Proses pencarian korban dilakukan dalam kondisi sulit. Sebagian korban ditemukan pada hari pertama dan kedua, namun ada pula yang baru diketahui keberadaannya beberapa hari kemudian setelah terbawa arus hingga ke desa lain.

“Awalnya ada 25 warga yang dilaporkan hilang. Pada hari keempat, kami mendapat informasi beberapa orang selamat dan ditemukan di Desa Biram Cut, Biram Raya, serta Lhok Bintang Hu,” tutur Mawardi.

Ia mengaku turun langsung menyusuri lokasi terdampak untuk memastikan kondisi warganya yang selamat.

“Sekitar delapan orang ditemukan selamat. Saya melihat langsung kondisi mereka di desa-desa tempat mereka ditemukan,” katanya.

Dari total korban meninggal dunia, empat di antaranya merupakan anak-anak. Kehilangan ini menjadi pukulan berat bagi warga desa yang berpenduduk sekitar 560 jiwa tersebut.

Hingga kini, warga Dusun Cot Me masih menghadapi sejumlah persoalan pascabanjir. Aliran listrik belum pulih akibat rusaknya jaringan sambungan dari dusun tengah.

“Untuk Dusun Cot Me, listrik sampai sekarang belum menyala,” kata Mawardi.

Kebutuhan mendesak lainnya adalah air bersih. Seluruh sumur bor milik warga tersumbat lumpur dan tidak dapat digunakan, termasuk sumur di fasilitas umum.

“Kendala utama kami saat ini adalah air bersih. Semua sumur bor tertutup lumpur,” ujarnya.

Mawardi berharap ada bantuan dari berbagai pihak, khususnya alat penyedot lumpur untuk membersihkan sumur warga.

“Kalau ada bantuan, kami sangat membutuhkan alat penyedot sumur bor. Tanpa itu, air tidak bisa digunakan meski sebagian listrik sudah kembali,” katanya.

Di tengah duka dan keterbatasan, warga Desa Lhok Reudep berupaya bangkit. Di antara rumah yang hilang, makam-makam baru, dan fasilitas yang rusak, semangat untuk kembali menata kehidupan tetap dijaga, meski harus dimulai dari awal. (*)