Hampir Dua Bulan Terisolasi, Warga Alue Geudong Bertahan di Meunasah, Rumah Terancam Ular Berbisa
Penulis : Abdul Rafar | Editor : Syahrul
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Hampir dua bulan pascabanjir lumpur, warga Desa Alue Geudong, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara, masih terpaksa mengungsi dan bertahan di meunasah setempat. Hingga kini, mereka belum dapat kembali ke rumah masing-masing karena kondisi permukiman yang belum layak huni dan akses jalan antar desa yang belum pulih sepenuhnya.
Rumah-rumah warga masih dipenuhi endapan lumpur tebal, sementara sejumlah ruas jalan penghubung belum dapat dilalui secara normal. Kondisi tersebut menyulitkan aktivitas warga sekaligus menghambat proses pembersihan permukiman.
Selain persoalan kerusakan rumah, warga juga dihadapkan pada ancaman keselamatan. Hendra, salah seorang warga Alue Geudong, mengatakan pascabanjir banyak ular berbisa masuk ke dalam rumah warga.
“Di dalam rumah sering ditemukan ular, termasuk kobra dan jenis berbisa lainnya. Masyarakat menjadi takut untuk masuk ke rumah, terutama pada malam hari karena ular biasanya keluar pada waktu tersebut,” ujar Hendra.
Situasi ini menambah kekhawatiran warga untuk kembali ke rumah meskipun sebagian di antaranya berkeinginan mulai membersihkan sisa lumpur. Minimnya penerangan dan kondisi lingkungan yang masih kotor dinilai meningkatkan risiko keselamatan.
Sementara itu, Anggota DPRK Aceh Utara, Zulkifli yang akrab disapa Joel Panton, menyebut kondisi pengungsi di Desa Alue Geudong sangat memprihatinkan. Ia menilai kebutuhan dasar warga, khususnya air bersih untuk konsumsi, belum terpenuhi secara layak.
“Sudah hampir dua bulan warga bertahan di meunasah dan belum bisa kembali ke rumah. Selain keterbatasan air bersih, lingkungan permukiman juga belum aman untuk ditempati,” kata Joel.
Menurutnya, banjir lumpur juga berdampak luas pada sektor pertanian. Ribuan hektare lahan sawah milik masyarakat tidak dapat ditanami padi, sehingga berpotensi mengganggu perekonomian dan ketahanan pangan warga setempat.
Warga berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera mengambil langkah konkret, mulai dari pembersihan lumpur di permukiman, pengamanan lingkungan dari ancaman hewan liar, pemulihan akses jalan, hingga penyediaan air bersih. Upaya tersebut dinilai penting agar masyarakat dapat kembali ke rumah dan menjalani kehidupan secara aman dan layak.(*)
