Geudumbak yang Tersapu, Nurhafizah dan Hari-Hari Tanpa Rumah
Penulis : Syahrul | Editor : Tim Pasesatu
ACEH UTARA | PASESATU.COM - Pagi itu,26 November 2025 lalu Desa Geudumbak Kecamatan Langkahan masih tampak seperti biasa. Nurhafizah tidak menyangka hari itu berubah menjadi mimpi buruk. Sekitar pukul 08.00 WIB, air tiba-tiba naik dengan cepat, menyelinap ke pekarangan rumah dan tak memberi banyak waktu bagi warga untuk bersiap.
“Kami tidak sempat ke mana-mana,” tutur Nurhafizah saat ditemui di antara sisa-sisa kayu yang menumpuk di desanya pada Selasa (30/12/2025). Air datang bukan hanya membawa lumpur, tetapi juga batang-batang kayu besar dari arah hulu sungai.
Dalam kepanikan, ia dan keluarganya memilih menyelamatkan yang paling tua lebih dulu. Seorang nenek ibu dari ayah dan ibunya digendong keluar rumah oleh anggota keluarga lain. Keselamatan nyawa menjadi prioritas di tengah derasnya arus.
Kayu-kayu yang kini memenuhi kawasan pemukiman itu tidak langsung datang sekaligus. Menurut Nurhafizah, sejak malam hari arus sudah membawa potongan kayu kecil. Namun menjelang pagi, ukuran kayu semakin besar dan mulai menghantam rumah-rumah warga.
“Awalnya kecil-kecil. Paginya sudah besar-besar,” katanya.
Banjir memaksa Nurhafizah dan warga lainnya bertahan di pengungsian selama tiga hari. Dalam masa itu, mereka hidup dengan keterbatasan. Bantuan memang datang dari berbagai pihak, namun pada hari pertama pasca-banjir, distribusi belum sepenuhnya menjangkau lokasi terdampak.
“Waktu air sudah surut, bantuan belum sampai ke dalam. Masih di luar,” ujarnya.
Saat air benar-benar pergi, desa tidak kembali seperti semula. Tumpukan kayu menutup akses jalan dan kebun. Padahal, kebun menjadi sandaran hidup banyak keluarga di Geudumbak.
“Kalau kayu ini belum dibersihkan, kami susah cari rezeki,” kata Nurhafizah. Jalan yang tertutup membuat warga tidak bisa pergi ke kebun atau beraktivitas seperti biasa.
Kerusakan paling berat terlihat dari rumah-rumah yang hilang tersapu arus. Dari puluhan rumah yang sebelumnya berdiri di kawasan itu, hanya tinggal beberapa unit yang masih tersisa. Selebihnya hilang tanpa jejak.
“Rumah saya yang lama sudah tidak ada lagi. Tinggal rumah yang baru, itu pun bagian belakangnya rusak,” tuturnya lirih.
Nurhafizah menyebut, rumah lamanya terseret arus banjir bersama tumpukan kayu. Tidak ada yang bisa diselamatkan selain pakaian di badan dan harapan untuk memulai kembali.
Meski banjir telah surut, perjuangan warga Desa Geudumbak belum selesai. Mereka masih menunggu pembersihan sisa-sisa kayu dan perhatian berkelanjutan agar kehidupan bisa kembali berjalan.
Bagi Nurhafizah, banjir bukan hanya peristiwa alam, tetapi titik balik yang mengajarkan betapa rapuhnya rasa aman. Namun di balik puing dan lumpur, ia tetap berharap desa kecil di Langkahan itu suatu hari kembali menjadi tempat pulang yang layak.
Saat ini bantuan terus berdatangan bahkan Menteri Dalam Negeri pun telah melihat langsung kondisi desa Geudumbak, dan Alat berat mulai dikerahkan untuk membersihkan puing - puing dan kayu gelondongan yang di bawa arus Banjir Bandang.(*)

