Trauma Anak-Anak Pascabencana Banjir dan Longsor di Aceh Tengah
ACEH TENGAH | PASESATU.COM — Banjir besar dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh sejak 26 November 2025 menyisakan dampak psikologis bagi anak-anak di Kabupaten Aceh Tengah. Sejumlah anak dilaporkan mengalami ketakutan berlebih, kecemasan, hingga gangguan tidur setelah menghadapi situasi darurat saat bencana terjadi.
Warga setempat menyebutkan, suara hujan deras, angin kencang, maupun aliran air kerap memicu kepanikan pada anak-anak, mengingatkan mereka pada peristiwa banjir dan longsor yang merusak rumah serta lingkungan tempat tinggal.
Sebagai upaya pemulihan, warga Aceh Tengah pada Selasa (23/12/2025) menginisiasi berbagai kegiatan ramah anak di lingkungan yang dinilai aman. Aktivitas seperti bermain bersama, menggambar, mewarnai, hingga mendongeng dilakukan untuk membantu anak-anak mengekspresikan perasaan dan mengurangi beban trauma.
“Anak-anak masih sangat sensitif. Mereka membutuhkan perhatian dan pendampingan agar kembali merasa aman,” ujar seorang warga yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Seluruh aktivitas dilakukan dengan pengawasan orang dewasa guna memastikan keselamatan dan kenyamanan anak-anak.
Selain tekanan psikologis, anak-anak juga terdampak secara fisik akibat rusaknya rumah, terendamnya fasilitas pendidikan, serta terbatasnya akses layanan kesehatan. Kondisi ini dinilai memperlambat proses pemulihan dan menambah beban mental, baik bagi anak-anak maupun keluarga mereka.
Warga secara bergotong royong membersihkan lingkungan terdampak, menyediakan makanan, serta menyiapkan ruang sementara agar anak-anak tetap dapat bermain dan belajar. Sejumlah tenaga pendidik turut membuka kelas darurat dengan pendekatan edukatif dan permainan kelompok untuk menjaga interaksi sosial anak-anak.
Menurut para pendidik, kegiatan tersebut penting untuk membangun kembali rasa percaya diri serta memberikan rasa aman di tengah situasi pascabencana. Anak-anak yang terlibat secara aktif diharapkan dapat perlahan pulih dari trauma yang dialami.
Meski demikian, anak-anak yang kehilangan anggota keluarga atau tempat tinggal disebut membutuhkan pendampingan psikologis lebih lanjut. Dukungan tenaga profesional dinilai penting agar proses pemulihan berjalan optimal dan berkelanjutan.
Bencana di Aceh Tengah menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan bencana yang tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik, tetapi juga kesehatan mental, khususnya bagi anak-anak. Sinergi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan lembaga kemanusiaan diharapkan terus diperkuat untuk memastikan hak anak atas rasa aman dan masa depan yang lebih baik tetap terjaga.(*)
