Semalam di Atas Rakit Darurat: Kisah Kapolsek Baktiya di Tengah Banjir Bandang
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Banjir bandang yang menerjang hampir seluruh wilayah Aceh pada 26 November 2025 melumpuhkan permukiman, memutus akses jalan, dan memaksa ribuan warga bertahan dalam kondisi darurat.
Di tengah situasi tersebut, Kapolsek Baktiya Iptu Agus Maulizar menjalani hari-hari penuh ujian, menggabungkan tanggung jawab sebagai aparat negara dan kepala keluarga.
Saat air mulai meninggi dan sejumlah desa terisolasi, Iptu Agus memilih tetap bergerak. Evakuasi dilakukan di Desa Pucok Alue dan Pulau Seuke, wilayah yang lebih dulu terendam dan sulit diakses. Dirinya bersama personel menembus arus banjir untuk membantu warga keluar dari rumah-rumah yang terendam.
Setelah memastikan warga di Pucok Alue dan Pulau Seuke dievakuasi ke tempat yang lebih aman, Kamis dini hari, Iptu Agus tetap berada dalam status siaga dan memilih bermalam di kantor Polsek Baktiya. Namun pagi harinya, banjir kembali mengepung kantor polisi tersebut, membuatnya terjebak tanpa akses keluar.
Di saat bersamaan, kabar dari rumah menambah beban pikiran. Keluarganya turut terjebak banjir. Dengan berjalan kaki dari Baktiya, Iptu Agus berupaya mencapai Rumah Sakit Mantang Kumbang. Namun derasnya arus dan terbatasnya akses membuatnya terjebak di sekitar lokasi itu sejak pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB.
Menjelang malam, ia kembali mengambil inisiatif. Pipa-pipa paralon yang tersedia di sekitar rumah sakit disusun dan diikat, lalu dijadikan rakit darurat. Sekitar pukul 21.00 WIB, rakit tersebut siap digunakan. Ia kembali turun ke air deras di depan Rumah Sakit Mantang Kumbang untuk menembus genangan banjir.
Sepanjang malam, dari pukul 21.00 WIB hingga sekitar 06.30 WIB pagi, Iptu Agus mengarungi banjir melalui persawahan Mantang Kumbang hingga akhirnya tiba di Menasah Pulang Senok saat fajar menyingsing.
Setelah kondisi memungkinkan, Iptu Agus kembali bergerak melanjutkan tugas kemanusiaan. Dengan rakit darurat yang sama, ia menuju Desa Alue Raba, Blang Seunong, Kecamatan Baktiya Barat, untuk melakukan evakuasi warga yang masih terjebak banjir.
Kisah Iptu Agus Maulizar menjadi gambaran nyata bagaimana banjir bandang 26 November 2025 tidak hanya menguji ketahanan infrastruktur, tetapi juga keteguhan, empati, dan keberanian petugas di lapangan. Dalam keterbatasan sarana dan situasi ekstrem, inisiatif sering kali menjadi penentu keselamatan.
Di balik seragam kepolisian, ia adalah manusia biasa yang juga diliputi rasa cemas. Namun di tengah bencana, ia memilih tetap bergerak demi warga yang membutuhkan pertolongan dan demi keluarganya sendiri.(*)
