BERITA TERKINI

Pengibaran Merah Putih Menjelang 17 Agustus: Simbol Kesatuan, Semangat, dan Sejarah Bangsa


ACEH |  PASESATU.COM
— Setiap Agustus, Indonesia seolah diselimuti oleh warna merah dan putih. Di tiang-tiang bambu, di depan rumah warga, di sekolah, kantor, hingga puncak gunung, Bendera Merah Putih berkibar menandai datangnya Hari Kemerdekaan.

Namun lebih dari sekadar tradisi, pengibaran bendera ini sarat dengan makna filosofis dan historis yang menyentuh jantung nasionalisme Indonesia.

Bendera negara Indonesia terdiri dari dua warna: merah di atas yang melambangkan keberanian, dan putih di bawah yang melambangkan kesucian. Kombinasi warna ini telah dikenal sejak zaman kerajaan di Nusantara, seperti Majapahit, bahkan sebelum republik ini berdiri.

"Warna merah dan putih telah digunakan sejak masa kerajaan Majapahit sebagai simbol kekuasaan dan keberanian," tulis Kompas.com dalam artikelnya, Simbolisme Merah Putih dari Majapahit hingga Republik

Filosofi ini mengandung makna mendalam bahwa rakyat Indonesia diajarkan untuk berani berjuang, namun tetap menjaga niat yang suci dan bersih dalam setiap tindakan.

Bendera Merah Putih dikibarkan untuk pertama kalinya sebagai simbol kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 di Jakarta oleh Soekarno dan Hatta. Namun, jauh sebelumnya, simbol ini sudah menjadi bagian dari perlawanan terhadap penjajahan Belanda dan Jepang.

"Merah Putih telah menjadi simbol perlawanan dan keberanian sejak sebelum kemerdekaan,".

Simbol ini kemudian diabadikan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara.

Pasal 7 ayat (3) UU No. 24 Tahun 2009 menyebutkan bahwa:

"Setiap warga negara Indonesia berhak dan wajib mengibarkan Bendera Negara di lingkungan rumahnya pada tanggal 17 Agustus."

Sementara itu, pemerintah melalui Surat Edaran dari Kementerian Sekretariat Negara setiap tahun mengimbau agar pengibaran dilakukan dari tanggal 1 hingga 31 Agustus sebagai bagian dari bulan kemerdekaan.

“Masyarakat diimbau mengibarkan bendera Merah Putih secara serentak di seluruh Indonesia sebagai bentuk cinta tanah air dan penghormatan kepada para pahlawan,” tulis Detik.com dalam laporannya, Imbauan Pemerintah Terkait Pengibaran Bendera.

Setiap tahunnya, pengibaran bendera tak hanya dilakukan di halaman rumah atau lapangan upacara. Banyak komunitas melakukan aksi simbolik pengibaran bendera di tempat ekstrem—dari puncak gunung, dasar laut, hingga daerah perbatasan.

"Bendera Merah Putih dikibarkan di dasar laut Banda Neira oleh prajurit TNI AL sebagai simbol semangat kemerdekaan," tulis Tribunnews.com dalam laporan peringatan HUT RI tahun lalu.

Pengibaran bendera juga memiliki nilai edukatif bagi generasi muda. Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar tentang sejarah, nasionalisme, serta pentingnya menghargai simbol negara.

“Pemasangan bendera bukan hanya kewajiban, tapi menjadi sarana pendidikan karakter bagi generasi muda agar tidak melupakan sejarah bangsa,” tulis IDN Times dalam artikelnya tentang budaya Agustusan.

Mengibarkan Merah Putih juga dapat dimaknai sebagai kontrak simbolik: rakyat menyatakan kesetiaan kepada negara, dan negara berkewajiban hadir memberikan perlindungan, keadilan, dan kesejahteraan.

Sebagaimana dikatakan oleh akademisi UIN Jakarta, Dr. Zaimul Arifin (dalam wawancaranya yang dikutip UMSurabaya.ac.id), simbol bendera adalah bahasa kepercayaan.

“Bendera adalah simbol kepercayaan rakyat terhadap negara. Ia adalah bentuk ekspresi sunyi bahwa kita masih memegang harapan.”

Bendera Merah Putih tidak hanya dikibarkan, tapi juga dihidupkan. Ia hadir dalam semangat gotong royong, dalam upacara yang penuh hormat, dalam kecintaan anak-anak kepada tanah air, dan dalam harapan orang tua untuk masa depan negeri ini.

Setiap Agustus, ketika Merah Putih kembali berkibar, bangsa ini sedang membaca ulang deklarasi kemerdekaan, bukan dengan kata, tapi dengan tindakan nyata. Dari desa hingga kota, dari ujung barat hingga timur, bendera ini adalah pengingat bahwa meski berbeda-beda, kita tetap satu.

“Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa: Indonesia.(*) 


Editor: Syahrul Usman